Menjaga Harga Pangan agar Tidak Jauh dari Koridor HET
8 Mar 2025 | 08:30 WIB
JAKARTA, investor.id–Pemerintah bersama para pelaku usaha kompak untuk terus mengupayakan agar harga pangan pokok di tingkat konsumen berada tidak jauh dalam koridor ketetapan harga eceran tertinggi/harga acuan penjualan (HET/HAP). Salah satu upaya menjaga agar harga pangan masih dalam koridor HET/HAP adalah memastikan stok atau ketersediaan tetap aman.
Langkah itu dilakukan guna menjaga inflasi pangan (volatile food) tetap positif. Saat ini, perkembangan inflasi volatile food menjadi salah satu indikator yang digunakan pemerintah sebagai potret situasi pangan nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan stok pangan saat Puasa tetap aman atau mencukupi kebutuhan hingga lima bulan ke depan. Hal itu lantaran Indonesia kini mengalami surplus pangan.
Di sisi lain, pemerintah berkomitmen menekan harga dengan membuka total 4.500 gerai operasi pasar pangan murah (OPPM) di berbagai wilayah di Tanah Air secara besar-besaran selama Puasa-Lebaran tahun ini. “Kami sampaikan ke seluruh masyarakat Indonesia, stok pangan strategis kita sekarang tersedia, cukup untuk tiga, empat, sampai lima bulan ke depan. Karena kita berproduksi terus,” ujar Mentan kepada BeritaSatu di Jakarta, Jumat (07/03/2025).
Baca Juga:
Perkuat Cadangan PanganMentan juga mengimbau masyarakat tidak khawatir karena stok pangan aman dan harga relatif stabil. Pemerintah telah mengingatkan para pengusaha pangan agar tidak menjual di atas HET. “Kenapa? Karena produksi melimpah, stok banyak. Tidak ada alasan, tidak ada celah, menaikkan harga di atas HET,” kata dia.
Kementerian Pertanian telah berkoordinasi dengan Kepolisian RI untuk menindak tegas oknum yang menaikkan harga pangan di atas HET. “Kalau ada yang coba-coba menaikkan (harga), kami sudah komunikasi dengan Kepolisian RI, Kapolri, Wakapolri, Kabareskrim, seluruh Kepolisian se-RI, kita sudah kerja sama, akan ditindak tegas, disegel, bahkan izinnya dicabut dan bisa pidana,” tandas Mentan.
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) Arief Prasetyo Adi mengatakan, langkah menjaga harga pangan pokok strategis di tingkat konsumen penting dilaksanakan demi menjaga tingkat inflasi, terutama volalite food. Tingkat inflasi pangan secara tahunan di Februari 2025 masih berada di angka positif, yakni 0,56%, hal ini harus terus dijaga pemerintah terlebih kondisi inflasi umum mengalami torehan -0,09%.
Di samping itu, indeks nilai tukar petani (NTP) turut diperhatikan pemerintah. Terbaru, pada Februari 2025, NTP secara umum menurun 0,18% menjadi 123,45, tetapi NTP tanaman pangan (NTPP) masih bergerak positif 0,47 menjadi 109,57. “Perkembangan volatile food masih positif, namun pemerintah teruys mengupayakan untuk menjaga harga pangan tidak jauh dari HET/HAP,” kata Arief.
Ekuilibrium antara tingkat harga pangan mulai dari tingkat produsen sampai konsumen, di antaranya diseriusi pemerintah dengan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Bapanas menyatakan dukungannya karena KDMP dapat hadir sebagai penyerap hasil panen petani sehingga harga petani pun dapat terjaga.
Untuk yang di daerah perdesaan, Presiden Prabowo Subianto juga sudah menyampaikan akan membentuk sekitar 70-80 ribu KDMP. Tentu ini berita baik, artinya nanti tidak ada harga di petani yang jatuh. Sebab, hasil panen petani, termasuk gabah, akan diserap KDMP. “Jadi, sekarang sedang disiapkan soal KDMP tersebut,” tutur Arief dalam keterangan yang dikutip pada hari yang sama.
Sedangkan Menko Pangan Zulkifli Hasan meminta masyarakat tenang di Puasa karena pasokan pangan melimpah dengan harga stabil. “Harganya stabil, yang pedas hanya satu, cabai. Tapi yang lain sesuai HET,” jelas Menko Pangan.
Stok pangan secara umum banyak dan melimpah, sehingga masyarakat tidak usah khawatir. Ketersediaan pangan aman selama Puasa hingga Lebaran, bahkan hingga habis Lebaran. “Kabar gembiranya yang membuat kita tenang itu barangnya banyak. Mau ayam, beras, banyak itu barangnya. Kepada masyarakat, tak usah khawatir. Apalagi beras, produksi kita di Januari-April tertinggi, tertinggi selama tujuh tahun terakhir,” papar Menko Pangan.
Harga Cabai
Dalam upaya memastikan kondisi harga pangan pokok, Kepala Bapanas Arief Prasetyo berkesempatan mendampingi Menko Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Perdagangan Budi Santoso blusukan ke Pasar Johar Baru, Jakarta, pada 5 Maret 2025. Hasilnya, pasokan pangan dan harganya juga baik, meski Johar Baru adalah pasar turunan, tidak ada harga di pasar itu yang di atas HET/HAP, kecuali cabai.
Cuaca hujan menjadi faktor penyebab utama jatuhnya produksi cabai. Karenanya, para petani cabai perlu pemahaman teknologi green house atau cungkup guna mencegah jatuhnya bunga tanaman sebelum waktunya. “Cabai ini memang tergantung sumber pasokannya karena beda-beda. Kalau hujan, bunga cabai rontok, sehingga tidak bisa sampai berbuah. Semoga ke depan petani cabai kita bisa menerapkan cungkup atau ada green house-nya, cungkup itu bisa membantu tanaman cabai sampai bisa dipanen 20 kali,” papar Arief.
Arief mengakui adanya ketidakstabilan harga jual di tingkat konsumen, khusus pada cabai rawit merah. Lonjakan harga pangan itu tengah dikendalikan dengan mengontrol distribusi dari daerah surplus ke daerah defisit serta memperluas akses pangan melalui kios pangan dan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.
Rerata harga cabai rawit merah di tingkat produsen kini Rp 73.774 per kilogram (kg) dan di konsumen Rp 94.193 per kg. “Concern kita hanya di cabai rawit yang agak tinggi harganya karena memang cuaca hujan, tanaman tidak berbunga. Tapi bisa dipastikan stoknya cukup, tinggal bagaimana kita fokus pada pemerataan distribusinya,” ujar Arief.
Upaya lain Bapanas guna mengontrol ketidakstabilan harga cabai rawit merah adalah identifikasi stok dan kebutuhan tiap daerah, fasilitasi distribusi pangan (FDP), mendorong subsidi harga pangan oleh APBD provinsi dan kabupaten/kota, serta pengawasan harga secara intensif.
Kendati begitu, Bapanas yakin harga cabai dapat stabil lagi beberapa minggu ke depan. Meski demikian, Bapanas tetap berharap harganya tidak boleh jatuh terlalu dalam agar petani cabai bisa recovery. “Harga cabai bisa turun, ini sudah mulai musim panas. Mudah-mudahan beberapa minggu ke depan cabai bisa lebih baik harganya,” kata dia.
Di periode 3-4 bulan lalu, harga cabai di petani sempat jatuh dan kini recovery, artinya kenaikan harga di konsumen ada dampak positifnya bagi petani. “Saat ini, saudara-saudara petani cabai kita bisa recovery. Ingat, kata Bapak Presiden Prabowo, petani Indonesia harus bisa lebih sejahtera dan makmur,” tandas Arief. (BTV/IDTV/B1/ID/tl)
Editor: Tri Listiyarini
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






