Mentan Amran Sindir Importir dan Mafia Beras
JAKARTA, investor.id – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku heran ada pihak yang meragukan data produksi hingga ketersediaan beras dari Badan Pusat Statistik (BPS), Perum Bulog, maupun Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Ia mengaku resah dan mempertanyaan maksud pihak-pihak yang curiga atas data resmi tersebut.
Dia mengatakan, data produksi hingga ketersediaan beras dari BPS, Perum Bulog, maupun USDA transparan untuk dapat diketahui publik. Data-data resmi yang dipublikasikan sekaligus mencegah adanya penyalahgunaan.
“Kalau ada yang meragukan data resmi ini, maka patut dipertanyakan. Jangan-jangan ada kepentingan importir atau mafia pangan di baliknya,” ujar Amran dikutip dari keterangannya, Selasa (27/5/2025).
Ia juga merespons isu sisa beras impor dari 2024 yang masih tersisa 1,7 juta ton. Menurut Amran, isu tersebut tidak signifikan. Jumlah itu hanya cukup untuk konsumsi nasional selama kurang dari 3 minggu, sementara stok dalam negeri justru melonjak signifikan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras nasional pada Januari–Mei 2025 mencapai 16,55 juta ton, naik hampir 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tak hanya itu, USDA juga mengakui capaian Indonesia dengan proyeksi produksi sebesar 34,6 juta ton untuk periode 2024/2025, tertinggi di Asean.
Data tersebut merupakan lompatan besar bagi sektor pertanian Indonesia, mengingat rata-rata serapan selama lima tahun terakhir hanya sekitar 1,2 juta ton per tahun. Sementara, Hingga 27 Mei 2025, Perum Bulog berhasil menyerap 2,35 juta ton beras dari dalam negeri, angka tertinggi sejak 1968.
Sementara penyerapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) oleh Bulog tercatat meningkat hingga 2.000% dibandingkan periode yang sama sebelumnya. Cadangan beras nasional per Mei 2025 kini berada di angka 12,05 juta ton, terdiri dari carry over tahun lalu sebanyak 8,15 juta ton dan hasil serapan lokal sebesar 3,9 juta ton. Angka ini mengindikasikan bahwa ketahanan pangan Indonesia kini berada dalam kondisi sangat aman.
Amran menekankan bahwa seluruh beras yang diserap berasal dari hasil panen petani lokal tanpa tambahan beras impor sama sekali. “Ini murni hasil panen petani kita sendiri. Tidak ada impor. Publik perlu tahu, keberhasilan ini adalah hasil nyata dari kerja keras petani dan kebijakan pemerintah yang berpihak,” tegas Amran.
Selain menyokong ketahanan pangan, sektor pertanian kini tercatat memberi kontribusi terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan I 2025 dengan capaian 10,52% secara tahunan (year on year)—tertinggi sepanjang sejarah.
“Kita tidak lagi hanya bicara swasembada, tapi sudah bicara kedaulatan. Dengan angka serapan seperti ini, Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam sistem pangan dunia,” tandas Amran.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






