Sabtu, 4 April 2026

Penjualan EV Melejit di 2025, BYD Jadi Penggerak Utama

Penulis : Wahyu Setiyowati
14 Feb 2026 | 20:31 WIB
BAGIKAN
BYD Atto 1 meluncur di GIIAS 2025. (ist)
BYD Atto 1 meluncur di GIIAS 2025. (ist)

JAKARTA, investor.id – Pertumbuhan pasar kendaraan ramah lingkungan di Indonesia sepanjang 2025 tidak hanya menandai akselerasi adopsi teknologi, tetapi juga mengukuhkan peran pemain utama dalam membentuk arah industri. BYD bersama sub-brand premium nya, Denza, tampil sebagai motor penggerak utama pasar kendaraan listrik nasional. Sepanjang Januari–Desember 2025, pangsa pasar EV Indonesia mencapai 13% dari total penjualan otomotif, dengan BYD & Denza mendominasi lebih dari 52% pasar atau setara sekitar 54.100 unit.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan fase penguatan ekosistem sebagai penopang utama keberlanjutan industri, mulai membentuk struktur permintaan yang lebih stabil di pasar otomotif nasional. Lonjakan pangsa pasar dari 5% pada 2024 menjadi dua digit pada 2025 menegaskan bahwa kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) kini memegang peran strategis dalam transformasi industri otomotif Indonesia, bergerak ke arah yang lebih progresif dan membawa dampak yang lebih luas bagi keseluruhan rantai nilai industri.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, menyebut ini tak lepas dari regulasi pemerintah. “Ini peningkatannya cukup masif. Faktor utamanya menurut saya adalah karena regulasi yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik, dalam hal ini pemberian insentif khususnya (untuk) CBU”, ungkapnya kepada Investor Daily.

Bagi produsen seperti BYD, kebijakan ini menjadi katalis penting untuk memperluas penetrasi pasar sekaligus mempercepat pembentukan basis konsumen kendaraan listrik di Indonesia. Seiring akselerasi tersebut, progres BYD di Indonesia tidak hanya tercermin dari angka penjualan, tetapi juga dari perluasan jaringan diler, peningkatan layanan purnajual, serta kesiapan menghadirkan model-model baru sesuai karakter pasar domestik. Strategi ini membuat BYD bukan sekadar memanfaatkan momentum regulasi, melainkan aktif membangun fondasi bisnis jangka panjang yang berkelanjutan di Indonesia.

Advertisement

Akselerasi penguatan ekosistem kini menjadi kunci. Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) saat dihubungi Investor Daily menyebut sepanjang 2025, ekosistem EV Indonesia berkembang signifikan, dengan produksi dan perakitan kendaraan listrik yang sudah maju, infrastruktur charging dasar, investasi baterai dan hilirisasi, serta kesiapan sistem kelistrikan nasional.

Kendati demikian, Wakil Ketua Umum Bidang Penelitian dan Pengembangan Periklindo, Prabowo Kartoleksono, menyebut masih ada beberapa PR besar untuk penguatan ekosistem EV di 2026. Standarisasi dan interoperabilitas menjadi salah satunya, utamanya terkait sistem pembayaran, konektor, serta data dan integrasi aplikasi. 

Sementara itu, terkait resale value yang perlu edukasi mengenai kesehatan baterai dan nilai jual kembali EV bekas yang perlu diperkuat agar ekosistem pembiayaan (leasing) lebih stabil. Periklindo juga mengingatkan soal SDM dan layanan aftersales seperti teknisi BEV, bengkel BEV tersertifikasi, edukasi konsumen pascapembelian, serta edukasi baterai hilir untuk second-life battery, daur ulang, dan juga kaitannya dengan ekonomi sirkular. 

Namun PR utamanya adalah tentang pemerataan infrastruktur.

“Ekspansi infrastruktur pengisian daya dengan SPKLU yang kini tidak hanya ada di kota besar juga memberi dorongan signifikan bagi masyarakat untuk berpindah menggunakan kendaraan listrik sebagai kendaraan utama, bukan lagi sekedar kendaraan kedua. SPKLU di luar Jawa dan kota tier-2 masih perlu percepatan. Konsistensi layanan dan uptime menjadi kunci”, kata Prabowo. 

Hingga September 2025, ada 4.272 mesin SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang beroperasi di 2.811 lokasi. PLN juga menyediakan lebih dari 57 ribu layanan home charging di seluruh Indonesia. Meski demikian, jumlah ini masih jauh dari ideal. 

“Per Oktober 2025, terdapat sekitar 123.000 unit mobil listrik dan 236.000 unit sepeda motor listrik di Indonesia. Sementara jumlah SPKLU baru mencapai perbandingan 1:26 terhadap mobil listrik, padahal idealnya 1:17,” ujar Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Ferry Triansyah dalam sebuah FGD beberapa waktu lalu. 

Sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 24.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Pengembangan SPKLU untuk periode tahun 2025 hingga 2030, pemerintah mengatur distribusi pemerataan SPKLU agar tidak hanya terpusat di kota besar. Melalui kebijakan ini diharapkan penyebaran SPKLU dapat merata dan memberikan ketenangan bagi pengguna kendaraan listrik. PR berikutnya adalah perbaikan tata kelola charging di SPKLU untuk mencegah terjadinya antrian panjang saat pengisian daya, antara lain melalui perluasan akses charging

2026 Tahun Pembuktian

Tahun 2026 akan menjadi tahun pembuktian, seiring berakhirnya insentif bagi kendaraan listrik yang selama ini diberikan pemerintah berupa Bebas PPnBM, Insentif PPN 10% bagi EV produksi lokal dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40%, serta insentif berupa Bea Masuk Nol Persen. 

Berakhirnya fase stimulus ini menandai masuknya industri ke tahap yang lebih matang, di mana seluruh elemen rantai nilai mulai terintegrasi dan daya saing jangka panjang tidak lagi ditentukan oleh insentif fiskal, melainkan oleh kesiapan manufaktur, penguasaan teknologi, serta kekuatan ekosistem industri secara menyeluruh.

Dampaknya ke Produk Domestik Bruto (PDB) nasional akan muncul lewat hilirisasi mineral dan ekosistem baterai, serapan tenaga kerja terampil, industri turunan seperti battery recycling dan charging station lokal, serta perbaikan neraca dagang karena impor BBM turun. 

Sementara itu, INDEF menegaskan bahwa 2026 menjadi tahun untuk mengawal komitmen investasi industri kendaraan listrik. Setelah pemberian relaksasi untuk impor CBU, komitmen investasi pabrikan EV diharapkan bisa segera terealisasi. 

“Kita ingin mendorong agar ada insentif tambahan khususnya untuk kendaraan-kendaraan yang memiliki TKDN yang cukup besar. Jadi tentu dalam hal ini kita ingin mendorong ekosistem dari industri manufaktur EV itu bisa lebih berkembang lagi. Tidak hanya merakit saja ya di dalam tetapi juga komponen-komponen itu bisa dihasilkan di dalam negeri. Apalagi kalau kita melihat untuk baterai sendiri kan kita sudah ongoing ya untuk menghasilkan baterai kendaraan listrik sendiri gitu”, ungkap Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho.

INDEF mendorong agar selain insentif, juga diberlakukan disinsentif untuk mempercepat elektrifikasi misalnya dengan menerapkan cukai emisi bagi kendaraan melalui pengenaan biaya tambahan berdasarkan emisi di awal pembelian. Ini diyakini bisa mendorong masyarakat lebih mempertimbangkan beralih ke kendaraan yang ramah lingkungan. 

Di satu sisi, hingga 24 Desember 2025 kemarin Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan belum menerima usulan resmi dari Kementerian Perindustrian terkait kelanjutan insentif kendaraan listrik dan hybrid untuk tahun 2026. Purbaya menegaskan, insentif fiskal bukan kebijakan yang bisa diberikan tanpa kajian menyeluruh. Pemerintah akan menilai terlebih dahulu efektivitas insentif yang berakhir pada 31 Desember 2025, sebelum memutuskan langkah selanjutnya dengan keberlanjutan industri otomotif serta penciptaan lapangan kerja sebagai pertimbangan utama dalam setiap kebijakan perpajakan.

Membangun Ekonomi Negeri

Pabrikan EV yang mendominasi penjualan di Indonesia pada 2025, BYD menyebut terus berupaya memperkuat industri otomotif nasional melalui pengembangan industri lokal. Pembangunan fasilitas produksi BYD di Indonesia yang direncanakan mulai beroperasi di tahun 2026 diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekosistem EV nasional. 

Tanpa insentif, inovasi menjadi kunci dalam memikat konsumen baik melalui peningkatan fitur kenyamanan berkendara, keamanan, serta model EV yang kian dinamis, BYD menyebut pertumbuhan pasar kendaraan listrik di Indonesia adalah perjalanan bersama. Oleh karena itu, bukan hanya sisi penjualan, tetapi juga ekosistem pendukungnya harus terus diperkuat. 

Salah satu fokus utama adalah pengembangan jaringan nasional. BYD secara bertahap terus memperluas jangkauan jaringan dan pusat layanan di berbagai wilayah, dengan tujuan mendekatkan pelayanan kepada pelanggan, menghadirkan pengalaman kepemilikan yang lebih baik dan nyaman, serta memastikan dukungan purna jual yang konsisten dari barat hingga timur Indonesia.

Rantai nilai bisnis yang terintegrasi dibangun melalui kolaborasi strategis dengan berbagai mitra, mulai dari perusahaan pembiayaan hingga penyedia layanan mobilitas dan juga ride-hailing untuk jangkauan yang lebih masif.

Editor: Yurike Metriani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 6 menit yang lalu

Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korsel

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia masih menjadi daya tarik bagi para investor dari Jepang maupun Korsel.
Finance 30 menit yang lalu

Bank Mantap Dukung Taspen Tingkatkan Kualitas Hunian Masyarakat

PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) mendukung langkah PT Taspen (Persero) dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Business 43 menit yang lalu

PLN Icon Plus Cegah Stunting melalui Kolaborasi Posyandu di Srondol Wetan

PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) cegah stunting.
Lifestyle 44 menit yang lalu

Vaksinasi Wajib yang Harus Dilengkapi Calon Jamaah Haji

Berdasarkan regulasi terbaru penyelenggaraan haji 2026 dari Kementerian Kesehatan, terdapat vaksin yang wajib dipenuhi oleh calon jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 4 April 2026, Cek Rinciannya

Berikut adalah daftar harga emas perhiasan dalam berbagai kadar karat pada Sabtu, 4 April 2026
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: BBCA Diborong Asing hingga Harga Emas Antam (ANTM) Runtuh

Berita populer dalam 24 jam terakhir, mulai dari BBCA diborong asing hingga harga emas Antam (ANTM) runtuh

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia