Kamis, 14 Mei 2026

Harga Emas Bisa Meledak ke US$ 17.250

Penulis : Natasha Khairunisa
13 Mei 2026 | 07:15 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas batangan. (Foto: AP/ Jae C. Hong)
Ilustrasi emas batangan. (Foto: AP/ Jae C. Hong)

JAKARTA, investor.id - Pengusaha tambang mengeluarkan skenario prediksi yang tinggi pada harga emas. Bahkan, harga emas berpeluang mencapai US$ 17.250 per troy ounce.

Dikutip dari Kitco News, Rabu (13/5/2026), salah satu pendiri Franco-Nevada dan mantan presiden Newmont Mining, Pierre Lassonde memprediksi harga emas dapat melonjak ke level US$ 17.250 per troy ounce dalam tiga tahun ke depan, jika terjadi guncangan ekonomi global imbas lonjakan utang Amerika Serikat.

"Saya menegaskan kembali bahwa prediksi saya tentang harga emas US$ 17.250 masih bertahan. Saya yakin kita akan melihat ini dalam tiga tahun ke depan," katanya.

ADVERTISEMENT

Menurut Lassonde, lonjakan utang bisa merubah posisi emas menjadi mata uang cadangan terakhir.

Dengan defisit anggaran AS yang diproyeksikan melebihi 7,9% dari PDB, Lassonde berpendapat bahwa Federal Reserve secara efektif memonetisasi utang dan mencetak dolar, memberikan dorongan permanen bagi emas.

Lassonde merujuk pada era 1970-an, di mana harga emas mengalami peningkatan sepuluh kali lipat seiring dengan kenaikan inflasi dan suku bunga secara bersamaan.

Namun, ia mencatat perbedaan penting dalam kondisi saat ini, yaitu besarnya utang negara AS.

"Total utang AS pada tahun 1981 saja, ketika Reagan pertama kali terpilih, adalah US$ 1 triliun. Saat ini, itulah jumlah uang yang harus dibayarkan AS sebagai bunga setiap tahun karena total utang sekarang mendekati US$ 40 triliun," ia menyoroti.

Beban utang ini diperparah oleh biaya pinjaman yang lebih tinggi, dengan bunga bersih yang diproyeksikan oleh Kantor Anggaran Kongres AS akan mencapai hampir 14% dari seluruh pengeluaran federal pada tahun fiskal 2026.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 24 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 56 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia