Fenomena ’Bitcoin ke Nol’ Viral di AS, Sinyal Harga Sudah Dasar atau Sekadar Panik?
NEW YORK, investor.id – Kekhawatiran investor ritel di Amerika Serikat (AS) mencapai puncaknya seiring dengan merosotnya harga Bitcoin. Data terbaru dari Google Trends menunjukkan bahwa pencarian kata kunci "Bitcoin zero" (Bitcoin ke nol) di AS menyentuh skor sempurna 100 pada skala minat relatif sepanjang Februari 2026.
Lonjakan pencarian ini bertepatan dengan anjloknya harga Bitcoin ke level US$ 60.000 seperti dipantau Coindesk, Senin (23/2/2026), setelah mengalami penurunan lebih dari 50% dari rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) pada Oktober lalu.
Dalam dunia investasi, lonjakan sentimen negatif yang ekstrem sering kali dianggap sebagai sinyal "kapitulasi", momen di mana investor ritel menyerah dan menjual aset mereka.
Secara historis, titik jenuh ketakutan seperti ini sering menjadi indikator contrarian yang menandakan harga sudah berada di titik terendah (bottom) dan siap berbalik arah. Fenomena serupa pernah terjadi pada 2021 dan 2022.
Namun, pengamat pasar memperingatkan bahwa situasi kali ini mungkin berbeda. Meskipun ketakutan di Amerika Serikat melonjak, data global justru menunjukkan tren penurunan. Secara internasional, minat pencarian "Bitcoin ke nol" justru telah melewati puncaknya pada Agustus tahun lalu dan kini menurun ke angka 38.
Perbedaan mencolok antara sentimen di AS dan global ini menunjukkan bahwa kepanikan saat ini bersifat lokal. Beberapa faktor makroekonomi spesifik di Amerika Serikat disinyalir menjadi pemicunya, antara lain:
- Eskalasi Tarif Dagang: Kebijakan ekonomi domestik yang memicu ketidakpastian.
- Ketegangan dengan Iran: Meningkatnya risiko geopolitik yang membuat investor beralih ke aset aman (safe haven).
- Rotasi Saham: Penurunan minat pada aset berisiko di bursa saham domestik.
Skala Relatif Google Trends
Penting untuk dicatat, skor 100 pada Google Trends tidak berarti jumlah pencarian absolut terbanyak sepanjang sejarah. Angka tersebut mencerminkan minat relatif dibandingkan dengan basis pengguna saat ini.
Mengingat adopsi Bitcoin di AS jauh lebih besar dibandingkan pada 2022, lonjakan ini menunjukkan meskipun basis investor tumbuh, tingkat kecemasan mereka terhadap volatilitas pasar tetap sangat tinggi.
Sejak peluncurannya pada 2009, Bitcoin telah dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi yang bergerak dalam siklus empat tahunan.
Fenomena penurunan tajam setelah mencapai rekor tertinggi bukanlah hal baru bagi investor veteran. Namun, dinamika pasar pada 2026 menjadi lebih kompleks karena keterlibatan institusi keuangan besar dan integrasi Bitcoin ke dalam sistem keuangan tradisional melalui Exchange-Traded Funds (ETF).
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi global, sering kali menempatkan Bitcoin pada posisi dilematis. Bitcoin sebagai "emas digital" yang melindungi nilai atau sebagai aset berisiko yang pertama kali dijual saat terjadi guncangan politik.
Lonjakan pencarian "Bitcoin ke nol" merupakan cerminan psikologis dari investor baru yang belum terbiasa dengan koreksi pasar yang tajam, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya analisis sentimen dalam strategi perdagangan kripto.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





