Sabtu, 4 April 2026

Fenomena ’Bitcoin ke Nol’ Viral di AS, Sinyal Harga Sudah Dasar atau Sekadar Panik?

Penulis : Grace El Dora
23 Feb 2026 | 12:26 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi kripto. (Foto: Universal Images Group)
Ilustrasi kripto. (Foto: Universal Images Group)

NEW YORK, investor.id – Kekhawatiran investor ritel di Amerika Serikat (AS) mencapai puncaknya seiring dengan merosotnya harga Bitcoin. Data terbaru dari Google Trends menunjukkan bahwa pencarian kata kunci "Bitcoin zero" (Bitcoin ke nol) di AS menyentuh skor sempurna 100 pada skala minat relatif sepanjang Februari 2026.

Lonjakan pencarian ini bertepatan dengan anjloknya harga Bitcoin ke level US$ 60.000 seperti dipantau Coindesk, Senin (23/2/2026), setelah mengalami penurunan lebih dari 50% dari rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) pada Oktober lalu.

Dalam dunia investasi, lonjakan sentimen negatif yang ekstrem sering kali dianggap sebagai sinyal "kapitulasi", momen di mana investor ritel menyerah dan menjual aset mereka.

Secara historis, titik jenuh ketakutan seperti ini sering menjadi indikator contrarian yang menandakan harga sudah berada di titik terendah (bottom) dan siap berbalik arah. Fenomena serupa pernah terjadi pada 2021 dan 2022.

Advertisement

Namun, pengamat pasar memperingatkan bahwa situasi kali ini mungkin berbeda. Meskipun ketakutan di Amerika Serikat melonjak, data global justru menunjukkan tren penurunan. Secara internasional, minat pencarian "Bitcoin ke nol" justru telah melewati puncaknya pada Agustus tahun lalu dan kini menurun ke angka 38.

Perbedaan mencolok antara sentimen di AS dan global ini menunjukkan bahwa kepanikan saat ini bersifat lokal. Beberapa faktor makroekonomi spesifik di Amerika Serikat disinyalir menjadi pemicunya, antara lain:

- Eskalasi Tarif Dagang: Kebijakan ekonomi domestik yang memicu ketidakpastian.

- Ketegangan dengan Iran: Meningkatnya risiko geopolitik yang membuat investor beralih ke aset aman (safe haven).

- Rotasi Saham: Penurunan minat pada aset berisiko di bursa saham domestik.

Skala Relatif Google Trends

Penting untuk dicatat, skor 100 pada Google Trends tidak berarti jumlah pencarian absolut terbanyak sepanjang sejarah. Angka tersebut mencerminkan minat relatif dibandingkan dengan basis pengguna saat ini.

Mengingat adopsi Bitcoin di AS jauh lebih besar dibandingkan pada 2022, lonjakan ini menunjukkan meskipun basis investor tumbuh, tingkat kecemasan mereka terhadap volatilitas pasar tetap sangat tinggi.

Sejak peluncurannya pada 2009, Bitcoin telah dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi yang bergerak dalam siklus empat tahunan.

Fenomena penurunan tajam setelah mencapai rekor tertinggi bukanlah hal baru bagi investor veteran. Namun, dinamika pasar pada 2026 menjadi lebih kompleks karena keterlibatan institusi keuangan besar dan integrasi Bitcoin ke dalam sistem keuangan tradisional melalui Exchange-Traded Funds (ETF).

Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi global, sering kali menempatkan Bitcoin pada posisi dilematis. Bitcoin sebagai "emas digital" yang melindungi nilai atau sebagai aset berisiko yang pertama kali dijual saat terjadi guncangan politik.

Lonjakan pencarian "Bitcoin ke nol" merupakan cerminan psikologis dari investor baru yang belum terbiasa dengan koreksi pasar yang tajam, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya analisis sentimen dalam strategi perdagangan kripto.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 6 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 16 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 46 menit yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 57 menit yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 1 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 2 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia