Jumat, 15 Mei 2026

Menggenjot Kinerja Ekspor

Penulis : Euis Rita Hartati
15 Nov 2023 | 23:04 WIB
BAGIKAN
(Seorang pekerja berada di atas peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (10/11/2023). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan kontraksi kinerja ekspor dan impor Indonesia pada kuartal III/2023 masing-masing sebesar 4,26 persen dan 6,18 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc)
(Seorang pekerja berada di atas peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (10/11/2023). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan kontraksi kinerja ekspor dan impor Indonesia pada kuartal III/2023 masing-masing sebesar 4,26 persen dan 6,18 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc)

Kendati masih mencatat surplus, kinerja ekspor lagi-lagi menurun. Penurunan atau kontraksi ini tercatat mencapai 12,15% (yoy) pada Januari – Oktober 2023 yakni menjadi US$ 214,41 miliar dari periode sama tahun lalu yang masih di US$ 244,06 miliar.

Tren ini penurunan ini memang dipandang beberapa kalangan sebagai sesuatu yang masih dalam tahap wajar, karena tidak hanya dialami Indonesia tetapi juga negara-negara lain akibat fenomena global, seperti konflik geopolitik dan juga perlambatan ekonomi.

Hal ini bisa dimengerti karena nyatanya memang bukan hanya ekspor, kinerja impor pun mengalami kontraksi yang lagi-lagi biang keroknya adalah  kondisi global yang bergejolak seperti terganggunya rantai pasok akibat konflik di sejumlah negara, maupun permintaan global yang melemah

Tak hanya faktor global, kinerja ekspor yang menurun signifikan juga sebagai dampak dari kebijakan pemerintah dengan membatasi ekspor di beberapa sektor mineral dalam konteks hilirisasi. Khusus untuk kasus ini, tentunya pemerintah seharusnya sudah memperhitungkan konsekuensinya, karena tujuan pelarangan tersebut adalah untuk kebaikan jangka menengah-panjang, yakni terciptanya nilai tambah di dalam negeri. Karena dari larangan itu, harapannya muncul industri pengolahan lanjutan dari produk mineral tersebut.

ADVERTISEMENT

Namun tentu saja kontraksi ekspor maupun impor harus diwaspadai karena akan berdampak langsung terhadap perekonomian nasional, besar maupun kecil. Saat ini memang pertumbuhan ekonomi nasional sebagian besar masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih terjaga, sehingga penurunan ekspor mungkin tidak berdampak terlalu besar terhadap perekonomian Indonesia.

Namun, jangan juga dianggap lumrah, karena jika terus berlanjut, akan mempengaruhi neraca perdagangan nasional. Apalagi kontraksi tidak hanya dialami sektor migas, juga nonmigas secara hampir merata.

Harus diakui, fondasi kinerja ekspor nasional masih mengandalkan harga komoditas dunia. Bisa ditebak, ketika harga komoditas meroket ( price booming), tanpa bersusah payah Indonesia bak kejatuhan durian runtuh menerima hasil ekspor yang melimpah. Namun sebaliknya, saat harga komoditas goyah, seketika kinerja langsung merosot.

Dari sini, jelas sekali ada yang harus dibenahi. Tak bisa semata-mata hanya mengandalkan harga. Secara kuantitas ekspor harus didorong. Caranya tentu dengan campur tangan pemerintah. Kinerja ekspor didorong antara lain dengan memberikan kemudahan prosedur ekspor serta dengan insentif berupa subsidi ekspor bagi produk produk Indonesia yang menghadapi persaingan ketat di pasar global.

Strategi lainnya menurut para ahli adalah memperluas pasar ekspor Indonesia dan fungsi market intelijen harus dihidupkan. Market intelijen berfungsi untuk mencari info produk yang dibutuhkan oleh pasar ekspor, sekaligus berfungsi mengurangi impor. Dari sisi produsen alias pelaku ekspor juga harus terus mendapatkan pembinaan dan pendampingan agar kualitas produk ekspor semakin baik dan diterima oleh pasar global.

Editor: Euis Rita Hartati

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia