Jumat, 15 Mei 2026

Profitabilitas 61 Perusahaan Negatif, OJK Pantau Fintech Lending

Penulis : Thomas E Harefa
2 Des 2022 | 22:41 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

BOGOR, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mencermati perkembangan industri fintech peer to peer lending (P2P lending) yang sedang berkembang. Pasalnya, dari 102 fintech lending yang sudah berizin saat ini, OJK mencatat ada 61 perusahaan yang profitabilitasnya masih negatif.

“Kita akan pantau. Ini proses kompetisi secara alamiah, apakah dari 102 perusahaan tersebut akan bertahan atau ada tidak bisa. Dalam hal ini, OJK akan terus memonitor,” jelas Kepala Eksekutif Pengawas IKNB Otoritas Jasa Keuangan Ogi Prastomiyono dalam diskusi OJK mengenai perkembangan industri keuangan nonbank (IKNB) di Bogor, Jumat (2/12/2022).

Menurut dia, profitabilitas fintech P2P lending masih berada dalam zona negatif yang cukup dalam. Beberapa perusahaan fintech P2P lending juga memiliki beban operasional yang cukup tinggi, bahkan berada di atas level 100%.

ADVERTISEMENT
Profitabilitas 61 Perusahaan Negatif, OJK Pantau Fintech Lending
Kepala Eksekutif Pengawas IKNB Otoritas Jasa Keuangan Ogi Prastomiyono di sela acara diskusi OJK mengenai perkembangan industri keuangan nonbank (IKNB) di Bogor, Jumat (2/12/2022). (Investor Daily/Thomas E Harefa)

Sementara itu, OJK mencatat, total aset industri fintech lending per Oktober 2022 mencapai Rp 5,26 triliun meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 4,37 triliun. Outstanding pinjaman tercatat sebesar Rp 49,34 triliun atau meningkat 76,80% secara year on year (yoy). Outstanding pinjaman kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar 35,83% dari total outstanding pinjaman. Rasio tingkat wanprestasi pengembalian pinjaman (TWP90) masih relatif stabil dengan TWP90 sebesar 2,90%.

Berkaitan dengan industri fintech lending tersebut, Ogi menjelaskan, keberadaan industri ini cukup dibutuhkan masyarakat, terutama bagi mereka yang belum terlayani oleh lembaga jasa keuangan/unbanked. Ketika industri ini hadir, jelas dia, maka diharapkan dapat mengisi kebutuhan publik untuk mendapatkan pinjaman. Di samping itu, perusahaan fintech lending diharapkan bisa berkembang.

“Awalnya, jumlah perusahaan fintech lending yang hadir itu banyak sekali, lalu terseleksi menjadi 102 perusahaan berizin. Tapi pada perkembangannya, ada perusahaan beberapa dari 102 perusahaan tersebut mulai goyang juga. Jadi kami sedang me-review apakah betul fintech P2P lending bisa sustain dan tumbuh ke depan. Memang ada yang sukses ada juga yang tidak,” kata dia.

Editor: Thomas Harefa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia