Terbaru, Segmentasi UMKM dan Peta Pembiayaan oleh Fintech Lending
JAKARTA, investor.id – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) bersama dengan EY Parthenon Indonesia merilis hasil riset tentang segmentasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia. Riset ini ditujukan untuk berbagai pemangku kepentingan, termasuk bagi fintech p2p lending guna mengoptimalkan penyaluran pinjaman produktif.
Riset berjudul "Studi Pasar dan Advokasi Kebijakan UMKM Indonesia" itu membagi empat segmentasi UMKM menjadi Kelompok Bisnis Prospektif, Kelompok Kebutuhan Dasar, Kelompok Bisnis Konvensional Bertahan, dan Kelompok Bisnis Unggul. Masing-masing kelompok dibedakan berdasarkan karakteristik, skala, dan tren yang berkembang.
Segmentasi tersebut dirancang untuk melengkapi pengelompokan berdasarkan modal usaha dan pendapatan per annum sesuai PP No 7 Tahun 2021.
Untuk Kelompok Bisnis Prospektif diklasifikasikan sebagai bisnis skala ultramikro dan mikro dengan literasi digital dan keuangan tinggi, serta memiliki potensi kemampuan perencanaan bisnis. Sedangkan Kelompok Kebutuhan Dasar merupakan bisnis skala ultramikro dan mikro dengan literasi digital dan keuangan rendah, menghasilkan potensi risiko pembiayaan yang lebih tinggi.
Adapun Kelompok Bisnis Konvensional Bertahan, yaitu bisnis skala kecil hingga menengah (UKM) dengan literasi digital dan keuangan rendah, hanya berfokus pada mempertahankan kondisi status quo mereka. Sedangkan Kelompok Bisnis Unggul adalah bisnis skala kecil hingga menengah dengan literasi digital dan keuangan tinggi, memiliki daya tarik tertinggi dalam hal pendanaan.
Segmentasi atau klasifikasi baru ini juga mengakomodasi jumlah karyawan, tingkat maturitas digital dan finansial, tipe industri baik yang manufaktur atau servis di pasar UMKM, sehingga memperluas cakupan pemahaman profil dan perilaku UMKM, serta mendorong pembentukan kebijakan dan penetrasi pembiayaan yang lebih akurat di masa depan.
Ketua Bidang Humas AFPI sekaligus CEO & Founder Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, AFPI dan EY mengidentifikasi bahwa penyebaran permintaan pembiayaan di seluruh wilayah tidak seragam karena memiliki komposisi klaster yang unik.
Permintaan pembiayaan UMKM masih terpusat di Jawa dan Bali yakni 62% dari total pembiayaan UMKM di Indonesia pada 2022 dan akan menjadi 61% pada 2026. Adapun pada 2022, total supply pembiayaan UMKM Rp 1.400 Triliun dan pada 2026 akan menjadi Rp 1.900 triliun.
Andi Taufan menambahkan, segmen dengan pertumbuhan tertinggi berada di Indonesia Timur dengan skala Ultramikro dan Mikro (Segmen Bisnis Prospektif) yang memiliki laju pertumbuhan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 23,1% antara 2022-2026. Permintaan pembiayaan dari Indonesia Timur diperkirakan mencapai Rp 250 triliun pada 2026, dimana 24% atau sekitar Rp 60 triliun berasal dari kelompok Bisnis Prospektif.
Namun, sampai saat ini akses pendanaan masih terbatas di sejumlah wilayah tersebut. Sedangkan untuk usaha skala besar yang masih belum matang (Segmen Bisnis Konvensional Bertahan) masih mendominasi permintaan pembiayaan di Kalimantan. Kondisi ini membutuhkan kombinasi program pembiayaan dan kesadaran untuk membantu UMKM tumbuh optimal.
"Dengan memahami profil pembiayaan yang berbeda di setiap daerahnya, maka lembaga keuangan termasuk anggota AFPI dapat mengetahui potensi pendanaan yang dapat disalurkan. Dengan demikian, segmentasi klaster UMKM ini dapat menjadi panduan bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dalam merumuskan inisiatif kebijakan utama yang sesuai dengan profil daerah masing-masing," kata Andi Taufan di Jakarta, Jumat (14/7/2023).
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






