Jumat, 15 Mei 2026

Kredit Juli Tumbuh Lebih Baik, Likuiditas Bank Terjaga

Penulis : Prisma Ardianto
1 Sep 2023 | 16:05 WIB
BAGIKAN
Logo OJK.
Logo OJK.

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit pada Juli 2023 tumbuh lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, kondisi likuiditas bank relatif terjaga di level memadai.

"Dapat kami sampaikan bahwa kredit perbankan pada Juli 2023 tumbuh 8,54% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp 6.686 triliun," ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Pemerintah dan Komisi IX DPR RI, Kamis (31/8/2023).

Pertumbuhan kredit pada Juli tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi pada Juni 2023 sebesar 7,76%. Jika dibedah, pertumbuhan kredit bulan Juli disokong oleh kredit ritel 13,13% dan kredit konsumsi 9,25%. Adapun kredit UMKM naik 7,59% dan kredit korporasi naik 8,35%.

ADVERTISEMENT

Dari aspek kualitas, rasio non performing loan (NPL) net per Juli 2023 terjaga sebesar 0,80%, meski bergerak  naik dari bulan sebelumnya 0,77%. Sedangkan NPL gross Juli 2023 berada di level 2,51%, ikut meningkat dari bulan sebelumnya sebesarl 2,44%.

Kendati NPL punya kecenderungan meningkat, rasio kredit berisiko bergerak ke arah yang lebih baik. Tercermin dari rasio kredit berisiko atau loan at risk (LaR) yang turun dari 13,17% pada Juni 2023 menjadi 12,59% per Juli 2023.

Di samping itu, dana pihak ketiga (DPK) pada Juli 2023 tumbuh sebesar 6,62% menjadi Rp 8.064 triliun. Jika diurai, giro tumbuh 10,92%, tabungan tumbuh 2,92%, dan deposito tumbuh 6,54%.

Perbankan mencatat loan to deposit ratio (LDR) 82,90%, naik dari sebelumnya 82,76%. Memastikan posisi likuiditas masih relatif terjaga di level yang memadai.

Likuiditas sektor perbankan pada Juli 2023 pun masih cukup memadai. Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/DPK (AL/DPK) masing-masing sebesar 118,37% dan 26,57%, jauh di atas ambang batas ketentuan masing-masing ketentuan 50% dan 10%.

Sementara permodalan perbankan dalam kondisi solid dengan capital adequacy ratio (CAR) di angka 27,46%. Indikator CAR berada di level yang tinggi seiring penyesuaian ATMR operasional.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia