Jumat, 15 Mei 2026

OJK Dorong Penguatan GRC di Sektor Jasa Keuangan

Penulis : Akmalal Hamdhi
19 Aug 2025 | 16:56 WIB
BAGIKAN
Risk and Governance Summit 2025 di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (19/8/2025). (Foto: OJK)
Risk and Governance Summit 2025 di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (19/8/2025). (Foto: OJK)

JAKARTA, investor.id – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, menegaskan pentingnya implementasi Governance, Risk, and Compliance (GRC) untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah tantangan global. Menurutnya, penguatan tata kelola di sektor jasa keuangan berfungsi sebagai langkah pencegahan terhadap berbagai risiko, termasuk ancaman siber, misinformasi, dan disinformasi.

“Ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik dan lingkungan global yang rapuh, sektor keuangan harus memperkuat kapasitas GRC,” kata Mahendra dalam Risk and Governance Summit di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (19/8/2025).

Mahendra mengakui, banyak perusahaan masih berada pada tahap awal maturitas GRC. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang lebih baik antara tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang didukung oleh teknologi, budaya, dan kepemimpinan yang kuat.

Dia bilang, dengan penerapan manajemen risiko dan tata kelola yang baik, serta fokus pada penguatan ekosistem yang sehat dan inklusif, maka diharapkan implementasi GRC dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Budi Prijono menilai, konsep GRC di Indonesia masih memiliki kelemahan sistemik. Kelemahan ini mencakup perencanaan yang belum berbasis kinerja, lemahnya pengendalian internal, serta kurangnya kesiapsiagaan dalam mengelola aset dan pengadaan.

Berbagai penelitian juga mengonfirmasi kelemahan tersebut, antara lain minimnya partisipasi swasta, regulasi yang kurang adaptif, rendahnya transparansi di BUMN maupun proyek kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), serta lemahnya integrasi kebijakan di wilayah rawan bencana.

“Koordinasi lintas entitas juga masih menjadi kendala di berbagai proyek strategis nasional. Karena itu, BPK mendorong adanya penguatan GRC melalui tata kelola kolaboratif, yang tidak hanya membutuhkan sinergi internal antarsatuan kerja, tetapi juga kemitraan lintas sektor serta partisipasi aktif di tingkat global,” ujar Budi.

Ia menekankan, implementasi GRC dapat membantu menjaga stabilitas sistem keuangan negara, mengendalikan risiko makro sektor keuangan, serta mewujudkan sistem yang berlandaskan akuntabilitas dan kepastian hukum.

Adapun Risk & Governance Summit (RGS) merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan oleh OJK sebagai puncak dari rangkaian forum penguatan tata kelola dan integritas di sektor jasa keuangan. Tahun ini, RSG mengangkat tema “Empowering the GRC Ecosystem to Drive Economic Growth National Resilience”.

Acara ini merupakan komitmen OJK dalam mendorong kolaborasi dengan industri, lembaga, asosiasi dan profesi di bidang GRC, serta stakeholder guna memperkuat praktik tata kelola yang baik sebagai pendukung tercapainya pertumbuhan sektor jasa keuangan yang berkelanjutan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia