Kamis, 14 Mei 2026

Bali Perluas Pasar Ekspor Kerajinan dan Produk Nonmigas

Penulis : ah
13 Aug 2015 | 09:52 WIB
BAGIKAN

DENPASAR- Pengusaha aneka kerajinan dan matadagangan/produk nonmigas Bali berupaya mampu memperluas pangsa pasar ekspor, mengingat pasar yang ada selama ini sedikit mengendor akibat kondisi ekonomi yang belum kondusif.

"Amerika Serikat yang merupakan pasar utama kerajinan Bali, pertumbuhan ekonominya tidak sesuai diharapkan menyebabkan realisasi perdagangan luar negeri anjlok," kata Pengusaha Kerajinan, Nyoman Wijaya Saputra di bengkel kerjanya Denpasar, Kamis.

Pengrajin Pulau Dewata mampu memproduksi aneka barang bernilai seni dan unik dalam jumlah banyak, kini memerlukan pasar ke mancanegara, dengan memperluas pangsa pasar di lingkungan ASEAN, Afrika dan negara potensi lainnya.

"Kami sekarang memerlukan pasar supaya bisa menjual hasil kerajinan masyarakat yang berbasis di daerah pedesaan di Bali, bersyukur dunia parwisata masih eksis sehingga ada saja yang laku terjual sebagai barang cendramata," ujar Wijaya.

Ia yang mengaku memasarkan aneka barang kerajinan dengan memproduksi mata dagangan bernilai seni dengan rancang bangun yang diciptakan desainer Bali maupun menerima dari mitra bisnisnya di luar negeri sesuai perkembangan zaman.

Pangsa pasar ekspor yang ada dari berbagai negara konsumen tampaknya masih lesu, akibat berbagai terpaan resisi dunia, sehingga jumlah pengiriman barang maupun devisa yang diterima tidak bisa merangkak sesuai harapan.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Bali Made Suastika, membenarkan kondisi pasar aneka barang kerajinan sedikit lesu terutama pembeli asal AS, konon akibat guncangan perekonomian yang dialami negeri adidaya itu secara berkelanjutan.

Amerika diakui masih sebagai pembeli yang terbanyak, namun jumlahnya tetap berkurang hampir setiap tahun, begitu pula pembeli dari Jepang belum ada saingannya, namun jumlahnya juga melorot terus sehingga kondisi perdagangannya tetap lesu.

Suastika menjelaskan, perolehan devisa dari aneka kerajinan Bali selama Januari-Juni 2015 hanya US$ 100,1 juta melorot 15,12 persen dari periode sama 2014 mencapai US$ 117,9 juta , hasil industri kecil juga berkurang dari 93,6 juta menjadi hanya US$ 74,8 juta Januari-Juni 2015. (ant/gor)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 28 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 39 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia