Kamis, 14 Mei 2026

2017, Produksi Pulp akan Capai 8,75 Juta Ton

Penulis : ah
29 Sep 2015 | 15:20 WIB
BAGIKAN

JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan, produksi bubur kertas (pulp) nasional akan mencapai 8,75 juta ton pada 2017, naik 2,35 juta ton dari realisasi tahun lalu sebesar 6,4 juta ton karena tambahan produksi PT OKI Pulp and Paper Mills (OKI) dan PT Sateri Viscose Internasional (SVI).

“Rencananya, OKI akan melakukan uji coba produksi pada awal 2016 dan memulai produksi komersial pada pertengahan tahun yang sama. Pabrik terintegrasi tersebut akan menghasilkan 500.000 ton tisu per tahun, dengan nilai investasi mencapai Rp 29,1 triliun, dijadwalkan berproduksi komersial secara penuh pada 2017 dan produksi pulp nasional akan bertambah setidaknya 2,35 juta ton pada 2017,” kata Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Ditjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Pranata, kepada pers di Jakarta, Selasa (29/9).

Sedangkan produksi PT Sateri Viscose Internasional (SVI), menurut Pranata, dijadwalkan berproduksi komersial secara penuh pada 2017.

“Pabrik terintegrasi SVI memiliki nilai investasi sekitar US$1,13 miliar atau setara Rp16,577 triliun (kurs Rp 14.616). SVI akan memproduksi pulp serat pendek hingga 250.000 ton per tahun dengan bahan baku 100% dari kayu akasia, untuk diolah menjadi kertas digital berkualitas tinggi (high grade),” papar dia.

Pranata menilai, bahan baku untuk kertas digital biasanya menggunakan serat panjang. SVI juga berencana mengekspor sekitar 60% rayon dan sekitar 70% dari kertas yang dihasilkan.

“Pulp serat pendek dari kayu akasia tersebut akan diolah menjadi serat stapel buatan (rayon), yang akan digunakan untuk industri tekstil. Selama ini, rayon staple buatan diproduksi dari kayu Eucalyptus dan masih diimpor,” ujarnya.

Pranata menambahkan, saat ini pasokan pulp serat panjang masih mengandalkan impor karena faktor bahan baku yang masih sulit dihasilkan.

“Permintaan pulp serat panjang juga masih sedikit, yakni hanya dari produsen kertas yang membutuhkan daya tahan kuat, seperti kertas kemasan semen,” tutur Pranata.(imq)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 33 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 44 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia