2017, Produksi Pulp akan Capai 8,75 Juta Ton
JAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan, produksi bubur
kertas (pulp) nasional akan mencapai 8,75 juta ton pada 2017, naik 2,35
juta ton dari realisasi tahun lalu sebesar 6,4 juta ton karena tambahan
produksi PT OKI Pulp and Paper Mills (OKI) dan PT Sateri Viscose
Internasional (SVI).
“Rencananya, OKI akan melakukan uji coba
produksi pada awal 2016 dan memulai produksi komersial pada pertengahan
tahun yang sama. Pabrik terintegrasi tersebut akan menghasilkan 500.000
ton tisu per tahun, dengan nilai investasi mencapai Rp 29,1 triliun,
dijadwalkan berproduksi komersial secara penuh pada 2017 dan produksi
pulp nasional akan bertambah setidaknya 2,35 juta ton pada 2017,” kata
Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Ditjen Industri Agro
Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Pranata, kepada pers di Jakarta,
Selasa (29/9).
Sedangkan produksi PT Sateri Viscose
Internasional (SVI), menurut Pranata, dijadwalkan berproduksi komersial
secara penuh pada 2017.
“Pabrik terintegrasi SVI memiliki nilai
investasi sekitar US$1,13 miliar atau setara Rp16,577 triliun (kurs Rp
14.616). SVI akan memproduksi pulp serat pendek hingga 250.000 ton per
tahun dengan bahan baku 100% dari kayu akasia, untuk diolah menjadi
kertas digital berkualitas tinggi (high grade),” papar dia.
Pranata
menilai, bahan baku untuk kertas digital biasanya menggunakan serat
panjang. SVI juga berencana mengekspor sekitar 60% rayon dan sekitar 70%
dari kertas yang dihasilkan.
“Pulp serat pendek dari kayu akasia
tersebut akan diolah menjadi serat stapel buatan (rayon), yang akan
digunakan untuk industri tekstil. Selama ini, rayon staple buatan
diproduksi dari kayu Eucalyptus dan masih diimpor,” ujarnya.
Pranata
menambahkan, saat ini pasokan pulp serat panjang masih mengandalkan
impor karena faktor bahan baku yang masih sulit dihasilkan.
“Permintaan
pulp serat panjang juga masih sedikit, yakni hanya dari produsen kertas
yang membutuhkan daya tahan kuat, seperti kertas kemasan semen,” tutur
Pranata.(imq)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Tag Terpopuler
Terpopuler

