Produsen Minyak Komit Pangkas Produksi
ABU DHABI, investor.id – Para produsen minyak mentah global pada Kamis (12/9) menegaskan komitmen pada kesepakatan bersama untuk memangkas produksi harian guna mengangkat harga.
Aliansi 24 negara produsen di kartel minyak OPEC dan non-OPEC, yang disebut OPEC+ tahun lalu memutuskan untuk memangkas produksi minyak harian sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) mulai Januari 2019. Tujuannya mengangkat harga yang turun lebih dari 40%.
Kesepakatan pemangkasan itu sudah diperpanjang sembilan bulan hingga akhir Maret 2020. Tapi tidak mampu untuk menguatkan pasar. Kalangan analis percaya kesepakatan untuk mengontrol harga tersebut tampaknya tidak banyak berdampak.
Tapi Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis berjanji untuk memangkas lagi produksinya pada Oktober 2019. Irak dan Nigeria juga menyatakan akan memangkas total 230.000 bph.
“Kami menegaskan komitmen untuk sepenuhnya patuh (terhadap kesepakatan pemangkasan produksi). Level ekspor September akan jauh lebih rendah dibandingkan Agustus dan akan ada pemangkasan lebih besar pada Oktober,” kta Menteri Perminyakan Irak Thamer Al Ghadban, pada konferensi pers di Abu Dhabi.
Arab Saudi selaku motor OPEC, pada Kamis memimpin seruan agar para produsen minyak mentah mematuhi kesepakatan pengurangan produksi.
Pemerintah Saudi sendiri telah memikul beban besar karena kesepakatan pemangkasan produksi. Namun negara-negara lain, terutama Nigeria dan Irak – dituding telah melampaui kuota produksi mereka.
“Setiap negara harus memenuhi komitmennya,” ujar Menteri Energi baru Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, saat Komite Pengawasan Bersama (JMMC) – yang bertugas mengawasi pengurangan dan menilai pasar membuka pembicaraan.
Dalam pertemuan JMCC yang diselenggarakan di Abu Dhabi itu, Pangeran Abdulaziz mengatakan, bahwa sangat penting untuk memulihkan stabilitas di pasar minyak mengingat harganya yang telah merosot di bawah US$ 60 per barel.
“Dia menyoroti paradigma operasi OPEC tentang inklusivitas. Dia menekankan bahwa setiap negara bertanggung jawab, terlepas dari ukurannya dan bahwa setiap negara harus memenuhi komitmennya,” demikian cuitan Kementerian Energi Saudi via Twitter.
Usai menggelar pertemuan, JMCC juga menekankan soal kepatuhan dengan mengatakan bahwa kesetaraan, keadilan dan transparansi merupakan hal-hal yang penting.
Sebelumnya, Menteri Energi UEA Suheil al-Mazrouei mengatakan pada Minggu (8/9) bahwa OPEC akan melakukan segala yang diperlukan untuk menyeimbangkan kembali pasar minyak. Di satu sisi dia juga mengakui bahwa masalah itu tidak sepenuhnya berada di tangan produsen minyak top dunia.
“Pasar tidak lagi diatur oleh penawaran dan permintaan tetapi lebih dipengaruhi oleh ketegangan perdagangan AS-Tiongkok dan faktor-faktor geopolitik,” pungkas dia.
Di sisi lain, laporan bulanan terbaru yang dirilis Badan Energi Internasional (UEA) tidak memberikan kabar baik, dan menyatakan bahwa pertumbuhan permintaan global untuk minyak diperkirakan akan tetap lemah.
Dengan alasan ketidakpastian IEA pun tidak mengubah perkiraan pertumbuhan permintaan minyak untuk 2019 dan 2020 – yang telah dirilis dalam laporan bulanan sebelumnya – yakni masing-masing 1,1 juta barel per hari dan 1,3 juta barel per hari. (afp/pya)
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler

