Dunia Gagal Danai Adaptasi Iklim
PARIS, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, bahwa dunia gagal memenuhi janji yang dibuat di bawah Pakta Iklim Paris untuk membantu pendanaan terhadap negara-negara yang paling rentan menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin menghancurkan.
Laporan menyebutkan, bahwa biaya sebenarnya untuk beradaptasi dengan dampak iklim di negara-negara ini bisa mencapai US$ 300 miliar setiap tahun pada akhir dekade, dan US$ 500 miliar pada pertengahan abad.
Kesepakatan tersebut mengharuskan para penandatangan untuk menerapkan langkah-langkah adaptasi melalui perencanaan nasional, juga melalui pendanaan ke negara-negara berisiko. Laporan Kesenjangan Adaptasi Program Lingkungan PBB atau UN Environment Programme (UNEP) Adaptation Gap menemukan bahwa tingkat keuangan saat ini sekitar US$ 30 miliar per tahun untuk adaptasi atau jauh dari biaya tahunan di negara berkembang sebesar US$ 70 miliar.
Adaptasi – yang bertujuan mengurangi dampak buruk di antara masyarakat dan meningkatkan kapasitas mereka untuk menghadapi bencana terkait iklim, seperti banjir dan kekeringan – merupakan pilar dari kesepakatan penting yang dicapai pada 2015, guna memetakan jalan keluar dari bencana pemanasan.
“Kebenaran yang pahit adalah bahwa perubahan iklim ada pada kita. Dampaknya akan semakin intensif dan menghantam negara, dan komunitas yang rentan paling parah, bahkan jika kita memenuhi tujuan Perjanjian Paris untuk menahan pemanasan global abad ini jauh di bawah 2 derajat Celcius (C),” ujar " Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen, yang dikutip AFP, pada Minggu (17/1).
UNEP pun menyerukan peningkatan drastis keuangan publik dan swasta untuk adaptasi, serta peningkatan investasi dalam solusi berbasis alam, seperti melindungi dan memulihkan ekosistem secara berkelanjutan.
Batasi Kerugian
Sebagai informasi, dengan suhu pemanasan lebih dari 1 derajat Celcius sejak dimulainya era industri, Bumi sudah mengalami cuaca ekstrem yang lebih intens dan sering, seperti kekeringan dan banjir, serta badai yang dipicu oleh kenaikan air laut.
Sebagian besar kehancuran yang ditimbulkan oleh bencana terkait iklim menimpa negara-negara berkembang. Meskipun ada janji untuk membantu secara finansial, negara-negara kaya masih belum mencapai target pendanaan adaptasi mereka.
UNEP mengatakan pendanaan untuk adaptasi saat ini baru mewakili 5% dari semua pendanaan iklim. Dengan biaya bencana alam yang akan meroket abad ini, negara-negara yang terkena dampak paling parah merasa sulit mendapatkan dana untuk membangun kembali setelah peristiwa ekstrem.
Negara Mozambik di Afrika Timur yang dilanda siklon kembar pada awal 2019, mengatakan bahwa satu tahun sejak bencana itu, pemerintahannya baru menerima kurang dari seperempat dari perkiraan US$ 3 miliar yang dibutuhkan untuk pulih.
Laporan PBB juga menemukan pengurangan emisi gas rumah kaca akan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang dengan mengurangi biaya yang terkait dengan perubahan iklim. Dengan mencapai batas kenaikan suhu 2 derajat Celcius dalam Pakta Iklim Paris, dapat membatasi kerugian pertumbuhan tahunan menjadi 1,6% dibandingkan dengan 2,2% untuk pemanasan 3 derajat Celcius – sebuah lintasan yang disepakati saat ini jika Perjanjian Paris ditegakkan.
Di bawah mekanisme kesepakatan itu, negara-negara seharusnya mengajukan rencana pengurangan emisi baru, yang dikenal sebagai kontribusi yang ditentukan secara nasional (nationally determined contributions/NDC), setiap lima tahun.
Ada pun batas waktu putaran pertama pengajuan NDC baru adalah 31 Desember 2020. Namun, hanya 71 negara yang mewakili di bawah sepertiga emisi global yang telah melakukannya. UNEP mengatakan emisi global harus turun 7,6% setiap tahun pada dekade ini untuk mempertahankan target suhu Paris yang lebih ambisius, yakni sebesar 1,5 derajat Celcius.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler


