Kamis, 14 Mei 2026

Dunia Gagal Danai Adaptasi Iklim

Penulis : Happy Amanda Amalia
18 Jan 2021 | 07:55 WIB
BAGIKAN
Seorang anak duduk di atas tanah yang terkena dampak kekeringan, di pinggiranTegucigalpa, Honduras selatan pada 2016. Para ahli mengatakan kekeringan bisa menjadi efek samping dari perubahan iklim. ( Foto: Orlando Sierra / AFP / Getty Images )
Seorang anak duduk di atas tanah yang terkena dampak kekeringan, di pinggiranTegucigalpa, Honduras selatan pada 2016. Para ahli mengatakan kekeringan bisa menjadi efek samping dari perubahan iklim. ( Foto: Orlando Sierra / AFP / Getty Images )

PARIS, investor.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, bahwa dunia gagal memenuhi janji yang dibuat di bawah Pakta Iklim Paris untuk membantu pendanaan terhadap negara-negara yang paling rentan menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin menghancurkan.

Laporan menyebutkan, bahwa biaya sebenarnya untuk beradaptasi dengan dampak iklim di negara-negara ini bisa mencapai US$ 300 miliar setiap tahun pada akhir dekade, dan US$ 500 miliar pada pertengahan abad.

Kesepakatan tersebut mengharuskan para penandatangan untuk menerapkan langkah-langkah adaptasi melalui perencanaan nasional, juga melalui pendanaan ke negara-negara berisiko. Laporan Kesenjangan Adaptasi Program Lingkungan PBB atau UN Environment Programme (UNEP) Adaptation Gap menemukan bahwa tingkat keuangan saat ini sekitar US$ 30 miliar per tahun untuk adaptasi atau jauh dari biaya tahunan di negara berkembang sebesar US$ 70 miliar.

Adaptasi – yang bertujuan mengurangi dampak buruk di antara masyarakat dan meningkatkan kapasitas mereka untuk menghadapi bencana terkait iklim, seperti banjir dan kekeringan – merupakan pilar dari kesepakatan penting yang dicapai pada 2015, guna memetakan jalan keluar dari bencana pemanasan.

ADVERTISEMENT

“Kebenaran yang pahit adalah bahwa perubahan iklim ada pada kita. Dampaknya akan semakin intensif dan menghantam negara, dan komunitas yang rentan paling parah, bahkan jika kita memenuhi tujuan Perjanjian Paris untuk menahan pemanasan global abad ini jauh di bawah 2 derajat Celcius (C),” ujar " Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen, yang dikutip AFP, pada Minggu (17/1).

UNEP pun menyerukan peningkatan drastis keuangan publik dan swasta untuk adaptasi, serta peningkatan investasi dalam solusi berbasis alam, seperti melindungi dan memulihkan ekosistem secara berkelanjutan.

Batasi Kerugian

Sebagai informasi, dengan suhu pemanasan lebih dari 1 derajat Celcius sejak dimulainya era industri, Bumi sudah mengalami cuaca ekstrem yang lebih intens dan sering, seperti kekeringan dan banjir, serta badai yang dipicu oleh kenaikan air laut.

Sebagian besar kehancuran yang ditimbulkan oleh bencana terkait iklim menimpa negara-negara berkembang. Meskipun ada janji untuk membantu secara finansial, negara-negara kaya masih belum mencapai target pendanaan adaptasi mereka.

UNEP mengatakan pendanaan untuk adaptasi saat ini baru mewakili 5% dari semua pendanaan iklim. Dengan biaya bencana alam yang akan meroket abad ini, negara-negara yang terkena dampak paling parah merasa sulit mendapatkan dana untuk membangun kembali setelah peristiwa ekstrem.

Negara Mozambik di Afrika Timur yang dilanda siklon kembar pada awal 2019, mengatakan bahwa satu tahun sejak bencana itu, pemerintahannya baru menerima kurang dari seperempat dari perkiraan US$ 3 miliar yang dibutuhkan untuk pulih.

Laporan PBB juga menemukan pengurangan emisi gas rumah kaca akan memberikan manfaat ekonomi jangka panjang dengan mengurangi biaya yang terkait dengan perubahan iklim. Dengan mencapai batas kenaikan suhu 2 derajat Celcius dalam Pakta Iklim Paris, dapat membatasi kerugian pertumbuhan tahunan menjadi 1,6% dibandingkan dengan 2,2% untuk pemanasan 3 derajat Celcius – sebuah lintasan yang disepakati saat ini jika Perjanjian Paris ditegakkan.

Di bawah mekanisme kesepakatan itu, negara-negara seharusnya mengajukan rencana pengurangan emisi baru, yang dikenal sebagai kontribusi yang ditentukan secara nasional (nationally determined contributions/NDC), setiap lima tahun.

Ada pun batas waktu putaran pertama pengajuan NDC baru adalah 31 Desember 2020. Namun, hanya 71 negara yang mewakili di bawah sepertiga emisi global yang telah melakukannya. UNEP mengatakan emisi global harus turun 7,6% setiap tahun pada dekade ini untuk mempertahankan target suhu Paris yang lebih ambisius, yakni sebesar 1,5 derajat Celcius.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 60 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia