Kamis, 14 Mei 2026

Sanofi Investasi Pabrik Vaksin 400 Juta Euro di Asia

Penulis : Grace Eldora
13 Apr 2021 | 06:33 WIB
BAGIKAN
Logo Sanofi terpampang di kantor pusat yang terletak di Paris, Prancis. Grup perusahaan farmasi Prancis, Sanofi menunjukkan kenaikkan omzet 6,9% atau hampir 9 miliar euro pada Kuartal I akibat pandemi Covid-19, pada 24 April 2020. ( Foto: FRANCK FIFE / AFP )
Logo Sanofi terpampang di kantor pusat yang terletak di Paris, Prancis. Grup perusahaan farmasi Prancis, Sanofi menunjukkan kenaikkan omzet 6,9% atau hampir 9 miliar euro pada Kuartal I akibat pandemi Covid-19, pada 24 April 2020. ( Foto: FRANCK FIFE / AFP )

PARIS, investor.id - Raksasa farmasi Prancis, Sanofi, yang saat ini kalah bersaing dengan para pesaingnya dalam produksi vaksin Covid-19, pada Senin (12/4) mengatakan akan membelanjakan 400 juta euro (US$ 475 juta) untuk membangun pabrik baru yang dapat memproduksi beberapa vaksin sekaligus.

Pabrik berteknologi tinggi tersebut akan berlokasi di Singapura dan beroperasi pada kuartal I-2026. Pihaknya menambahkan bahwa konstruksi akan dimulai musim panas ini.

"Situs baru ini akan memberi Sanofi kemampuan untuk memproduksi vaksin inovatif dalam skala besar Asia dan dengan cepat menanggapi risiko pandemi di masa depan," ungkapnya, Senin (12/4), yang dikutip AFP.

Sanofi memberikan pukulan telak bagi kebanggaan Prancis di sektor farmasi, karena kalah dalam perlombaan menuju mengembangkan vaksin Covid-19.

ADVERTISEMENT

Produsen vaksin terbesar ketiga di dunia itu, sebelum pandemi, mengatakan bahwakandidat vaksinnya tidak akan siap sebelum secepatnya akhir 2021.

Untuk sementara waktu telah perusahaan tersebut direduksi sehingga membantu memproduksi vaksin untuk pesaingnya Pfizer dan Johnson & Johnson.

Kelompok usaha yang berbasis di Paris itu mengatakan pada Senin, sementara pabrik lainnya hanya dapat memroduksi satu vaksin di waktu terpisah, fasilitas Singapura akan mampu memproduksi tiga atau empat sekaligus.

Pabrik juga akan dapat memanfaatkan berbagai platform teknologi pembuatan vaksin, berdasarkan jenis sel yang berbeda.

"Yang memungkinkan untuk meluncurkan vaksin tertentu lebih cepat, tergantung pada kebutuhan kesehatan masyarakat," kata Sanofi.

Pengumuman tersebut adalah yang ketiga dari jenisnya oleh Sanofi sejak dimulainya pandemi virus corona. Pihaknya juga merencanakan investasi baru di Prancis dan Kanada.

Sanofi sempat mengumumkan peluncuran uji coba pada manusia untuk vaksin Covid-19 jenis baru pada Jumat (9/4).

Sebelumnya, raksasa farmasi itu mengumumkan pada Desember, kandidat vaksin pertamanya terbukti mengecewakan pada uji coba.

Kemunduran ini diikuti oleh berita bahwa harapan Prancis lainnya, upaya kolaboratif yang melibatkan Institut Pasteur yang terkenal, telah ditinggalkan. Kondisi ini mengarah pada krisis harga diri tentang kegagalan negara yang menganggap dirinya pemimpin dalam teknologi farmasi.

Kandidat baru Sanofi didasarkan pada teknologi messenger RNA (mRNA) inovatif yang digunakan di Pfizer-BioNTech dan vaksin Moderna yang telah disahkan di Uni Eropa (UE), Amerika Serikat (AS), dan negara lain.

"Memulai uji coba Fase 1/2 merupakan langkah maju yang penting dalam tujuan kami membawa vaksin efektif yang lain untuk perang yang sedang berlangsung melawan pandemi Covid-19," ujar kepala unit vaksin Sanofi, Thomas Triomphe, dalam sebuah pernyataan.

Grup ini telah bermitra dengan perusahaan bioteknologi yang berbasis di AS, Translate Bio. Vaksin mereka, jika berhasil, akan bergabung dengan apa yang dengan cepat menjadi bidang yang ramai dan sangat kompetitif.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, sudah ada 81 vaksin dalam pengembangan klinis, termasuk 10 berdasarkan teknologi RNA. Sedangkan 182 ada dalam pengembangan pra-klinis. Saat ini, sudah ada 11 vaksin yang digunakan secara global.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 28 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 39 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia