Kamis, 14 Mei 2026

Darurat, India Gunakan Vaksin Sputnik V Rusia

Penulis : Grace Eldora
13 Apr 2021 | 19:47 WIB
BAGIKAN
Deretan botol vaksin Covid-19 buatan berbagai negara yang berada di pusat vaksinasi Beograd di Serbia, (kiri-kanan): Covishield India buatan Oxford-AstraZeneca, vaksin Pfizer Inc. dan BioNTech SE, vaksin Sputnik V buatan Rusia, dan vaksin Sinopharm Group Co. ( Foto: OLIVER BUNIC / AFP )
Deretan botol vaksin Covid-19 buatan berbagai negara yang berada di pusat vaksinasi Beograd di Serbia, (kiri-kanan): Covishield India buatan Oxford-AstraZeneca, vaksin Pfizer Inc. dan BioNTech SE, vaksin Sputnik V buatan Rusia, dan vaksin Sinopharm Group Co. ( Foto: OLIVER BUNIC / AFP )

NEW DELHI – Pemerintah India telah mengizinkan penggunaan darurat vaksin Sputnik V Covid-19 Rusia. Pihak berwenang pada Selasa (13/4) mengatakan akan mempercepat persetujuan untuk vaksin lain yang telah melewati negara-negara besar lainnya, dikarenakan tingkat infeksi melonjak ke rekor tertinggi baru di negara tersebut.

Pemerintah telah menghadapi permintaan yang meningkat untuk menyetujui lebih banyak vaksin selama lonjakan kasus di antara 1,3 miliar populasi, sementara inokulasi massal lebih lambat dari perkiraan.

Sputnik V adalah obat ketiga yang mendapat otorisasi oleh pemerintah India setelah Covishield dan Covaxin dari Oxford-AstraZeneca, yang dikembangkan oleh perusahaan India Bharat Biotech.

Panel ahli SEC mengatakan vaksin Rusia harus diotorisasi dalam situasi darurat dan memang telah diterima, kata kementerian kesehatan dalam sebuah pernyataan.

ADVERTISEMENT

G.V. Prasad, salah satu ketua perusahaan farmasi Dr Reddy's Laboratories, mengatakan perusahaannya sangat senang mendapatkan otorisasi penggunaan darurat. “Dengan meningkatnya kasus di India, vaksinasi adalah alat yang paling efektif dalam memerangi Covid-19,” ia menambahkan.

Uji Coba Pasca-Persetujuan

Kementerian Kesehatan India juga mengatakan akan mempercepat persetujuan vaksin yang tidak dibuat di India, tidak seperti tiga vaksin yang pertama yang disetujui. Tujuannya memperluas keranjang vaksin untuk penggunaan dalam negeri, serta menambah kecepatan dan cakupan vaksinasi.

Vaksin harus sudah mendapatkan otorisasi penggunaan darurat oleh regulator. Sama seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat (AS), Badan Pengobatan Eropa (EMA) dan lainnya di Inggris atau Jepang, ataupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kata kementerian itu.

Persyaratan untuk uji klinis pra-persetujuan akan diganti dengan uji coba pasca otorisasi.

"Saya pikir ini penting ... pada dasarnya ini adalah satu langkah lagi untuk membuka vaksinasi ke sektor swasta dan ini bagus, karena sektor pemerintah saja tidak akan mampu menangani beban itu," ahli virus Shahid Jameel mengatakan kepada AFP, Selasa (13/4).

"Jadi jika Pfizer atau Moderna ingin memasukkan vaksin mereka melalui pemasok, bukan produsen, maka itu mungkin sekarang," imbuhnya.

Pemerintah India pada Senin (12/4) melaporkan lebih dari 161.000 kasus baru, lebih dari 100.000 infeksi telah dicatat di hari ketujuh berturut-turut. Itu membuat total kasus negara menjadi hampir 13,7 juta.

Otoritas lokal telah memberlakukan jam malam dan membatasi pergerakan dan aktivitas penduduk.

Di ibu kota keuangan India, Mumbai, pihak berwenang telah memerintahkan pembangunan tiga rumah sakit tambahan masing-masing dengan 2.000 tempat tidur dalam enam minggu ke depan. Jumlah tempat tidur untuk pasien Covid-19 juga telah ditingkatkan di New Delhi.

Sputnik V, yang didukung oleh Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), sudah memiliki perjanjian produksi di India untuk menghasilkan 852 juta dosis.

Kepala Eksekutif RDIF Kirill Dmitriev mengatakan dalam sebuah pernyataan, persetujuan itu merupakan tonggak penting setelah kerja sama ekstensif pada uji klinis vaksin di India.

Dmitriev mengatakan kepada penyiar India NDTV, dosis pertama bisa siap pada akhir April atau Mei dengan peningkatan kenaikan produksi pada Juni.

"Kami yakin pada Juni, kami akan benar-benar memiliki kapasitas produksi yang baik di India dan akan menjadi pemain yang sangat berarti dalam program vaksinasi di India," ia menambahkan.

India, rumah bagi produsen vaksin terbesar di dunia, memulai upaya inokulasi pada pertengahan Januari lalu dan telah memberikan lebih dari 108 juta dosis sejauh ini.

Tetapi tujuan ambisius pemerintah untuk memvaksinasi 300 juta orang pada akhir Juli terhambat oleh laporan kekurangan vaksin di beberapa negara bagian, ditambah keraguan masyarakat atas vaksin.

Pemerintah juga telah memperlambat ekspor vaksin karena kasus yang meningkat di dalam negeri. (afp/eld)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 28 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 39 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia