Pendapatan Microsoft Turun di Bawah Ekspektasi
SAN FRANCISCO, investor.id – Microsoft mengumumkan pendapatannya pada kuartal yang baru saja berakhir turun di bawah ekspektasi, karena penjualan komputer pribadi terdampak dari penghentian produksi di Tiongkok dan penurunan permintaan.
Raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) itu melaporkan laba US$ 16,7 miliar dari pendapatan US$ 51,9 miliar, melampaui kuartal yang sama tahun sebelumnya tetapi meleset dari perkiraan pasar.
Penurunan laba sebagian besar karena nilai tukar mata uang asing dan penutupan pabrik komputer pribadi di Tiongkok, jelas analis Wedbush Dan Ives dalam sebuah catatan kepada investor.
Microsoft mengatakan bahwa dolar AS yang kuat membuat penawaran lebih mahal di pasar luar negeri, sehingga mengganggu penjualan.
“Bisnis inti yang paling penting, pemesanan cloud dan komersial relatif solid meskipun ada ketakutan,” kata Ives, Selasa (26/7).
“DNA inti dari kisah pertumbuhan Microsoft adalah pertumbuhan cloud dan core Azure yang sehat pada kuartal ini dan tampaknya memiliki momentum hingga 2023, meskipun ada hambatan ekonomi,” jelasnya.
Saham Microsoft naik sekitar 4% dalam perdagangan setelah pasar yang mengikuti rilis angka pendapatan.
“Dalam lingkungan yang dinamis, kami melihat permintaan yang kuat, mengambil bagian, dan meningkatkan komitmen pelanggan terhadap platform cloud kami,” kata Direktur Keuangan Microsoft Amy Hood.
Penutupan fasilitas produksi komputer di Tiongkok bulan Mei 2022 dan pasar yang memburuk untuk komputer pribadi merugikan Microsoft sekitar US$ 300 juta pendapatan yang akan dihasilkan dari sistem operasi Windows yang dibeli untuk menyalakan mesin, menurut data laporan keuangan.
Pasar komputer pribadi telah mengalami penurunan yang stabil sebelum pandemi, karena orang beralih ke ponsel pintar atau tablet.
Pergeseran besar-besaran ke belanja, bekerja, bersosialisasi, dan bermain dari rumah menghidupkan kembali permintaan akan daya komputasi desktop, tetapi masih harus dilihat apakah selera itu akan tetap ada pasca pandemi.
Pendapatan iklan di berita daring Microsoft, mesin pencarian, dan jejaring sosial karir LinkedIn menurun karena perusahaan memotong anggaran pemasaran akibat kesulitan ekonomi yang luas, kata perusahaan itu.
Veteran teknologi yang berbasis di negara bagian Washington, AS itu juga mencatat US$ 126 juta dalam biaya operasional, terkait dengan pengurangan operasinya di Rusia karena serangan negara itu ke Ukraina.
Microsoft melihat belanja konsumen menurun untuk konten videogame Xbox pada kuartal tersebut dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini pertanda bahwa banyak yang bermain di dunia nyata lebih banyak karena pembatasan pandemi mereda.
Namun penawaran cloud, bisnis, dan produktivitas Microsoft terus berkembang.
“Kami melihat peluang nyata untuk membantu setiap pelanggan di setiap industri menggunakan teknologi digital untuk mengatasi tantangan saat ini dan menjadi lebih kuat,” kata CEO Microsoft Satya Nadella.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler


