Jumat, 15 Mei 2026

Goldman Sachs: Kejatuhan Silicon Valley Bank Tak Mungkin Berdampak pada Pertumbuhan Asia

Penulis : Grace El Dora
13 Mar 2023 | 10:30 WIB
BAGIKAN
Monitor yang menampilkan harga indeks saham dan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di Bursa Efek Tokyo di Tokyo, Jepang pada 4 Januari 2022. (Foto: REUTERS/Issei Kato/File Foto)
Monitor yang menampilkan harga indeks saham dan nilai tukar yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di Bursa Efek Tokyo di Tokyo, Jepang pada 4 Januari 2022. (Foto: REUTERS/Issei Kato/File Foto)

TOKYO, investor.id – Kepala ekonom Asia Pasifik Goldman Sachs Andrew Tilton mengatakan prospek ekonomi kawasan Asia tidak mungkin terpengaruh dari kejatuhan Silicon Valley Bank (SVB) di Amerika Serikat (AS).

“Sejauh ini ditangani relatif cepat oleh regulator dan tidak menyebar ke entitas tambahan di luar yang telah dicatat sejauh ini, maka kita cenderung tidak melihat dampak signifikan pada prospek pertumbuhan Asia,” kata Tilton, menurut laporan CNBC, Senin (13/3).

Dia mengulangi perkiraan perusahaan untuk ekonomi Tiongkok dan menekankan sebagian besar pertumbuhan akan didorong oleh pembukaan kembali negara tersebut, setelah kebijakan nol Covid-19 dicabut.

ADVERTISEMENT

“Kami terus mengharapkan pertumbuhan 5,5% untuk Tiongkok tahun ini, sebagian besar didorong oleh pembukaan kembali dan mungkin kurang sensitif terhadap masalah khusus ini,” paparnya.

Kehilangan Kepercayaan

Sementara itu, Analis bank veteran Dick Bove mengatakan para deposan telah kehilangan kepercayaan pada bank-bank Amerika. Ia menilai bank-bank Amerika telah kehilangan kredibilitas dengan investor rata-rata karena apa yang dia gambarkan sebagai “trik akuntansi”, katanya.

“Akuntansi perbankan di Amerika Serikat adalah sampah,” katanya. Bove mengatakan bank menggunakan “tipu muslihat akuntansi untuk menghindari menunjukkan ekuitas sebenarnya di bank-bank ini”.

Bove lebih lanjut mencatat masalah seputar keruntuhan Silicon Valley Bank dipimpin oleh Federal Direct Loans.

“Mereka memiliki US$ 110 miliar investasi di sekuritas yang didukung pemerintah AS, perbendaharaan, sekuritas yang didukung hipotek. Bukan pinjaman yang menimbulkan masalah, itu adalah sekuritas yang didukung AS yang menciptakan masalah,” jelas Bove.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia