Saham Credit Suisse Crash, Ada Apa Lagi?
LONDON, investor.id – Saham Credit Suisse Group AG jatuh ke level terendah, setelah Saudi National Bank – pemegang saham terbesar Credit Suisse – menyatakan tak mau menyuntikkan modal lagi.
“Jawabannya sama sekali tidak, karena berbagai alasan. Saya akan mengutip alasan paling sederhana, yaitu peraturan dan undang-undang. Kami sekarang memiliki 9,8% saham Credit Suisse, jika kami melampaui 10% semua jenis aturan baru akan diberlakukan, baik itu oleh regulator kami atau regulator Eropa atau regulator Swiss,” kata Chairman Saudi National Bank, Ammar Al Khudairy kepada Bloomberg, seperti dilaporkan CNN, Rabu (15/3/2023).
Ammar Al Khudairy menegaskan bahwa pihaknya cenderung tidak masuk ke rezim peraturan baru. Komentar tersebut memicu aksi jual saham Credit Suisse, dimana sempat jatuh 20% atau rekor penurunan terbesar dalam satu hari.
Crash saham Credit Suisse kemudian memukul saham-saham bank Eropa lainnya. Saham bank Prancis dan Jerman seperti BNP Paribas, Societe Generale, Commerzbank, dan Deutsche Bank jatuh antara 8% dan 10%.
Credit Suisse pernah menjadi pemain besar di Wall Street. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Credit Suisse dilanda serangkaian kesalahan langkah dan kegagalan kepatuhan, yang telah merusak reputasinya di mata klien dan investor, dan membuat beberapa eksekutif puncak kehilangan pekerjaan.
Crash saham Credit Suisse ini menambah kekhawatiran pelaku pasar, setelah baru-baru ini dikejutkan dengan runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB), Signature Bank, dan Silvergate Bank di Amerika Serikat.
Efek tersebut sempat menjalar ke pasar saham Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun bergerak cepat. OJK menyatakan penutupan Silicon Valley Bank pada 10 Maret 2023 tidak akan berdampak langsung terhadap industri perbankan Indonesia yang memiliki kondisi yang kuat dan stabil.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, penutupan SVB oleh Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) diperkirakan tidak berdampak langsung terhadap perbankan Indonesia yang tidak memiliki hubungan bisnis, facility line, maupun investasi pada produk sekuritisasi SVB.
Selain itu, berbeda dengan SVB dan perbankan di AS umumnya, bank-bank di Indonesia tidak memberikan kredit dan investasi kepada perusahaan rintisan (start-up) teknologi maupun kripto.
“Karena itu, OJK mengharapkan agar masyarakat dan industri tidak terpengaruh terhadap berbagai spekulasi yang berkembang di kalangan masyarakat,” ujar Dian.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





