Warren Buffett Tanggapi Maraknya Fenomena Dedolarisasi
NEW YORK, investor.id – Meski muncul kekhawatiran soal krisis batas utang (debt ceiling) Amerika Serikat (AS), investor kakap Warren Buffett yakin dolar AS tidak akan kehilangan status sebagai mata uang cadangan dunia (reserve currency).
“Saya tidak melihat opsi mata uang lain menjadi mata uang cadangan," kata Warren Buffett dalam pertemuan tahunan Berkshire Hathaway, Sabtu (6/5/2023).
Buffett menegaskan tidak ada yang memahami situasi utang seperti Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell, tetapi dia tidak bertanggung jawab atas kebijakan fiskal. Buffett juga mengatakan orang bertindak berbeda ketika mereka tidak percaya pada mata uang.
Lebih lanjut Buffett mengatakan, mengganti dolar AS sebagai mata uang dunia memiliki risiko. "Tidak ada yang tahu sejauh mana Anda dapat menggunakan mata uang kertas sebelum menjadi tidak terkendali, terutama jika Anda adalah mata uang cadangan dunia. Anda tidak ingin itu menjadi masalah karena kemudian semuanya akan berakhir," tutur dia.
Menurut dia, sulit untuk mempersiapkan perubahan dalam batas utang dan dampaknya terhadap dolar karena itu merupakan keputusan politik.
Belakangan ini, gerakan dedolarisasi menjadi fenomena global yang diambil oleh negara-negara maju yang mempunyai orientasi ekonomi yang sama. Misalnya, kelompok negara BRICS yang beranggotakan Brasil, Rusia, India, Tiongkok dan Afrika Selatan berupaya mengurangi penggunaan dolar AS dalam bertransaksi antarnegara. ASEAN+3 juga mengadopsi gerakan ini.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyoroti bahwa tantangan saat ini dan ketergantungan yang besar pada mata uang dominan tertentu untuk perdagangan internasional dan penyelesaian investasi dapat meningkatkan kerentanan dan meningkatkan risiko stabilitas keuangan di ASEAN+3.
Dedolarisasi adalah proses penggantian dolar AS sebagai mata uang yang digunakan untuk perdagangan dan/atau komoditas lainnya. Hal ini menjadi bagian dari kebijakan pemerintah yang akan mendongkrak nilai tukar mata uang lokal terhadap dolar AS.
Menurut data Reuters, pada akhir Maret 2023, penggunaan yuan dalam pembayaran dan penerimaan lintas batas mencapai 48,4%, sedangkan dolar AS turun menjadi 46,7%. Pada 2010, bagian yuan hampir nol, sedangkan dolar AS mencapai 83%. Perubahan ini terjadi karena Tiongkok berusaha untuk memberdayakan yuan di pasar perdagangan dan modal.
Namun, dolar AS masih dominan di luar perbatasan Tiongkok, terutama dalam transaksi mata uang global untuk pembiayaan perdagangan, dimana bagian yuan hanya mencapai 4,5% pada Maret 2023 dibandingkan dengan 83,7% untuk dolar AS.
Berita ini juga telah ditayangkan di Beritasatu.com dengan judul Dedolarisasi, Warren Buffet Yakin Dolar Masih Berkuasa
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






