Jumat, 15 Mei 2026

Ekonomi Tiongkok dalam Masalah, Tilik Penyebabnya

Penulis : Grace El Dora
22 Aug 2023 | 20:03 WIB
BAGIKAN
Seorang perempuan membuka payungnya untuk menutupi panas saat ia berjalan di luar sebuah mal di Beijing, Tiongkok pada 21 Agustus 2023. (Foto: Investor Daily/AP Photo/Andy Wong)
Seorang perempuan membuka payungnya untuk menutupi panas saat ia berjalan di luar sebuah mal di Beijing, Tiongkok pada 21 Agustus 2023. (Foto: Investor Daily/AP Photo/Andy Wong)

Masalah Properti

Perekonomian Tiongkok lesu sejak April, ketika momentum dari awal yang kuat hingga tahun ini memudar. Namun kekhawatiran semakin meningkat bulan ini menyusul gagal bayar (default) utang oleh Country Garden yang merupakan pengembang terbesar di negara tersebut berdasarkan penjualan property. Zhongrong Trust, sebuah perusahaan jasa keuangan (trust company), juga gagal bayar.

Laporan Country Garden tidak membayar bunga dua obligasi dalam dolar Amerika Serikat (AS) membuat takut investor. Ini juga menghidupkan kembali kenangan akan Evergrande, yang gagal bayar utangnya pada 2021 yang menandakan dimulainya krisis real estat.

Meskipun Evergrande masih menjalani restrukturisasi utang, masalah di Country Garden menimbulkan kekhawatiran baru terhadap perekonomian Tiongkok.

ADVERTISEMENT

Pemerintah Tiongkok telah meluncurkan serangkaian langkah-langkah pendukung untuk menghidupkan kembali pasar real estat. Namun bahkan negara-negara yang lebih kuat kini berada di ambang gagal bayar, hal ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi pemerintah Tiongkok untuk mengatasi krisis ini.

Sementara itu, gagal bayar utang perusahaan pengembang properti tampaknya telah menyebar ke industri perwalian investasi negara senilai US$ 2,9 triliun.

Zhongrong Trust, yang mengelola dana senilai US$ 87 miliar untuk klien korporat dan individu kaya, telah gagal membayar kembali serangkaian produk investasi kepada setidaknya empat perusahaan senilai sekitar US$ 19 juta, menurut pernyataan perusahaan awal bulan ini.

Para pengunjuk rasa yang marah bahkan baru-baru ini melakukan protes di luar kantor perusahaan perwalian tersebut, menuntut pembayaran atas produk-produk dengan imbal hasil (yield) tinggi, menurut video yang diunggah di media sosial Tiongkok dan dilihat oleh CNN.

“Kerugian lebih lanjut di sektor properti berisiko mengakibatkan ketidakstabilan keuangan yang lebih luas,” kata kepala ekonomi Tiongkok di Capital Economics Julian Evans-Pritchard.

“Dengan semakin banyaknya dana domestik yang mengalir ke obligasi pemerintah dan deposito bank, semakin banyak lembaga keuangan non bank yang menghadapi masalah likuiditas,” tambahnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia