Jumat, 15 Mei 2026

Ekonomi Tiongkok dalam Masalah, Tilik Penyebabnya

Penulis : Grace El Dora
22 Aug 2023 | 20:03 WIB
BAGIKAN
Seorang perempuan membuka payungnya untuk menutupi panas saat ia berjalan di luar sebuah mal di Beijing, Tiongkok pada 21 Agustus 2023. (Foto: Investor Daily/AP Photo/Andy Wong)
Seorang perempuan membuka payungnya untuk menutupi panas saat ia berjalan di luar sebuah mal di Beijing, Tiongkok pada 21 Agustus 2023. (Foto: Investor Daily/AP Photo/Andy Wong)

Utang Pemerintah Daerah

Kekhawatiran besar lainnya adalah utang pemerintah daerah yang melonjak, sebagian besar karena penurunan tajam pendapatan penjualan tanah karena merosotnya properti. Ini diperparah oleh dampak yang berkepanjangan dari penerapan lockdown akibat pandemi.

Tekanan fiskal yang parah yang terjadi di tingkat daerah tidak hanya menimbulkan risiko besar bagi bank-bank Tiongkok, namun juga menekan kemampuan pemerintah memacu pertumbuhan dan memperluas layanan publik.

Pihak Tiongkok sejauh ini telah meluncurkan langkah-langkah bertahap untuk meningkatkan perekonomian, termasuk penurunan suku bunga dan langkah-langkah lain demi membantu pasar properti dan bisnis konsumen.

ADVERTISEMENT

Tapi pemerintah telah menahan diri dari membuat langkah besar. Para ekonom dan analis mengatakan kepada CNN, hal ini terjadi karena Tiongkok terlalu terlilit utang sehingga tidak mampu meningkatkan perekonomian seperti yang terjadi 15 tahun lalu, saat terjadi krisis keuangan global.

Saat itu, para pemimpin Tiongkok meluncurkan paket fiskal sebesar empat triliun yuan (US$ 586 miliar) untuk meminimalkan dampak krisis keuangan global.

Namun langkah-langkah tersebut, yang terfokus pada proyek-proyek infrastruktur yang dipimpin pemerintah, juga menyebabkan ekspansi kredit yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terjadi pula peningkatan besar-besaran utang pemerintah daerah, yang menyebabkan perekonomian masih kesulitan untuk pulih.

“Meskipun terdapat elemen siklus dalam pelemahan saat ini yang membenarkan pemberian stimulus yang lebih besar, para pembuat kebijakan nampaknya khawatir pedoman kebijakan tradisional mereka akan menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam tingkat utang yang akan kembali membebani mereka di masa depan,” tutur Evans-Pritchard .

Pada Minggu (20/8), regulator Tiongkok menegaskan kembali salah satu prioritas utama mereka adalah menahan risiko utang sistemik di pemerintah daerah.

Bank Rakyat Tiongkok (PBoC), regulator keuangan, dan regulator sekuritas bersama-sama berjanji untuk bekerja sama mengatasi tantangan ini, menurut pernyataan bank sentral.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia