Kamis, 14 Mei 2026

AstraZeneca Akan Investasikan US$ 3,5 Miliar untuk Riset dan Manufaktur AS

Penulis : Happy Amanda Amalia
13 Nov 2024 | 22:35 WIB
BAGIKAN
Logo grup farmasi AstraZeneca. AstraZeneca merupakan grup usaha farmasi yang terbentuk pada 1999 dari hasil merger Astra dari Swedia dan Zeneca dari Inggris. ( Foto: ANDREW YATES / AFP / GETTY IMAGES )
Logo grup farmasi AstraZeneca. AstraZeneca merupakan grup usaha farmasi yang terbentuk pada 1999 dari hasil merger Astra dari Swedia dan Zeneca dari Inggris. ( Foto: ANDREW YATES / AFP / GETTY IMAGES )

LONDON, investor.id – AstraZeneca Plc menargetkan penaikan proyeksi tahunannya dan akan menggelontorkan US$ 3,5 miliar, untuk berinvestasi di bisnis Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. Peningkatan proyeksi itu menyusul naiknya angka permintaan untuk obat kankernya.

Produsen obat asal Inggris itu mengungkapkan bakal menginvestasikan US$ 3,5 miliar untuk penelitian, pengembangan dan manufaktur di AS pada akhir 2026.

Jumlah tersebut termasuk investasi baru senilai US$ 2 miliar, mengingat upaya AstraZeneca untuk lebih meningkatkan bisnisnya di Negeri Paman Sam. Yang mana sekarang menghasilkan pendapatan dua kali lebih banyak daripada Eropa, dan merupakan pendorong penjualan terbesar di wilayah mana pun.

Investasi itu juga mencakup fasilitas penelitian dan pengembangan AstraZeneca yang telah diumumkan sebelumnya di Cambridge, Massachusetts, serta fasilitas biologi di Maryland, kapasitas produksi terapi sel di pantai barat dan timur, dan manufaktur khusus di Texas.

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, Tagrisso – yang diklaim sebagai obat kanker terlaris – menjadi pendorong utama kenaikan penjualan 3,5%, lebih tinggi dari prediksi. Pendapatan dari pendatang baru Enhertu juga melampaui ekspektasi.

Seiring penjualan obat onkologi AstraZeneca yang naik 10% lebih tinggi dari diperkirakan di kuartal III, para analis menyatakan kekhawatiran seputar  pengembangan obat kanker eksperimental yang disebut Dato-DXd.

AstraZeneca dan mitranya Daiichi Sankyo Co Ltd., mengatakan pada Selasa (12/11/2024) bahwa permohonan yang sebelumnya diajukan ke Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah ditarik, dan akan kembali mengajukan permohonan lain untuk populasi pasien yang lebih tepat sasaran.

“Langkah tersebut dapat mendorong pengurangan proyeksi penjualan jangka panjang lebih lanjut untuk obat yang berpotensi laris dijual,” ujar John Murphy dari Bloomberg Intelligence.

Ditambahkan oleh analis Peter Welford dari lembaga riset Jefferies bahwa penarikan dan pengajuan permohonan kembali ke FDA merupakan sebuah kemunduran, tetapi tidak sepenuhnya tidak diantisipasi.

“Laba per saham, tidak termasuk beberapa item, sekarang diperkirakan akan naik dengan persentase tinggi, naik dari persentase pertengahan belasan yang diperkirakan sebelumnya,” demikian pernyataan perusahaan pada Selasa, yang dilansir Bloomberg.

Saham AstraZeneca tercatat naik sebanyak 3% pada awal perdagangan di London, dan dilaporkan telah turun 5,8% tahun ini hingga penutupan Senin (11/11/2024).

Penyelidikan China

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 22 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 52 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia