AstraZeneca Akan Investasikan US$ 3,5 Miliar untuk Riset dan Manufaktur AS
LONDON, investor.id – AstraZeneca Plc menargetkan penaikan proyeksi tahunannya dan akan menggelontorkan US$ 3,5 miliar, untuk berinvestasi di bisnis Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026. Peningkatan proyeksi itu menyusul naiknya angka permintaan untuk obat kankernya.
Produsen obat asal Inggris itu mengungkapkan bakal menginvestasikan US$ 3,5 miliar untuk penelitian, pengembangan dan manufaktur di AS pada akhir 2026.
Jumlah tersebut termasuk investasi baru senilai US$ 2 miliar, mengingat upaya AstraZeneca untuk lebih meningkatkan bisnisnya di Negeri Paman Sam. Yang mana sekarang menghasilkan pendapatan dua kali lebih banyak daripada Eropa, dan merupakan pendorong penjualan terbesar di wilayah mana pun.
Investasi itu juga mencakup fasilitas penelitian dan pengembangan AstraZeneca yang telah diumumkan sebelumnya di Cambridge, Massachusetts, serta fasilitas biologi di Maryland, kapasitas produksi terapi sel di pantai barat dan timur, dan manufaktur khusus di Texas.
Sebagai informasi, Tagrisso – yang diklaim sebagai obat kanker terlaris – menjadi pendorong utama kenaikan penjualan 3,5%, lebih tinggi dari prediksi. Pendapatan dari pendatang baru Enhertu juga melampaui ekspektasi.
Seiring penjualan obat onkologi AstraZeneca yang naik 10% lebih tinggi dari diperkirakan di kuartal III, para analis menyatakan kekhawatiran seputar pengembangan obat kanker eksperimental yang disebut Dato-DXd.
AstraZeneca dan mitranya Daiichi Sankyo Co Ltd., mengatakan pada Selasa (12/11/2024) bahwa permohonan yang sebelumnya diajukan ke Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS telah ditarik, dan akan kembali mengajukan permohonan lain untuk populasi pasien yang lebih tepat sasaran.
“Langkah tersebut dapat mendorong pengurangan proyeksi penjualan jangka panjang lebih lanjut untuk obat yang berpotensi laris dijual,” ujar John Murphy dari Bloomberg Intelligence.
Ditambahkan oleh analis Peter Welford dari lembaga riset Jefferies bahwa penarikan dan pengajuan permohonan kembali ke FDA merupakan sebuah kemunduran, tetapi tidak sepenuhnya tidak diantisipasi.
“Laba per saham, tidak termasuk beberapa item, sekarang diperkirakan akan naik dengan persentase tinggi, naik dari persentase pertengahan belasan yang diperkirakan sebelumnya,” demikian pernyataan perusahaan pada Selasa, yang dilansir Bloomberg.
Saham AstraZeneca tercatat naik sebanyak 3% pada awal perdagangan di London, dan dilaporkan telah turun 5,8% tahun ini hingga penutupan Senin (11/11/2024).
Penyelidikan China
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Tag Terpopuler
Terpopuler



