Kamis, 14 Mei 2026

AstraZeneca Akan Investasikan US$ 3,5 Miliar untuk Riset dan Manufaktur AS

Penulis : Happy Amanda Amalia
13 Nov 2024 | 22:35 WIB
BAGIKAN
Logo grup farmasi AstraZeneca. AstraZeneca merupakan grup usaha farmasi yang terbentuk pada 1999 dari hasil merger Astra dari Swedia dan Zeneca dari Inggris. ( Foto: ANDREW YATES / AFP / GETTY IMAGES )
Logo grup farmasi AstraZeneca. AstraZeneca merupakan grup usaha farmasi yang terbentuk pada 1999 dari hasil merger Astra dari Swedia dan Zeneca dari Inggris. ( Foto: ANDREW YATES / AFP / GETTY IMAGES )

Hasil optimis Astra datang pasca periode di mana saham produsen obat asal Inggris itu terpukul oleh berita bahwa pihak berwenang China sedang menyelidiki dugaan impor ilegal obat kanker ke China melalui Hong Kong. Presiden perusahaan di China, Leon Wang, pun telah ditahan sementara beberapa eksekutif senior dan mantan eksekutif senior lainnya sedang diselidiki.

“Perusahaan menanggapi masalah di China dengan sangat serius. Perusahaan akan bekerja sama sepenuhnya dengan para pejabat di Beijing jika diminta,” tutur Chief Executive Officer (CEO) Pascal Soriot dalam sebuah pernyataan, seraya menyebutkan jika AstraZeneca belum menerima pemberitahuan bahwa perusahaan sedang di bawah penyelidikan.

Selama kuartal III, China telah menghasilkan penjualan sekitar US$ 1,7 miliar, naik 15% pada nilai tukar konstan. Ini merupakan pertumbuhan terlemah di antara semua wilayahnya, mengingat penjualan di Eropa naik 22% dan pasar negara berkembang – kecuali China – naik 31%. Pendapatan di Amerika Serikat pun menunjukkan kenaikan 23%.

ADVERTISEMENT

Keterbukaan di China telah membayangi hasil dari aset obesitas perusahaan yang sangat dinanti-nantikan. Menurut AstraZeneca, terdapat tiga obat obesitas baru potensial yang terbukti aman dan sedang dalam tahap uji coba tahap pertengahan. Obat-obatan tersebut termasuk pil obesitas eksperimental.

AstraZeneca berupaya meningkatkan penjualan hampir dua kali lipat menjadi US$ 80 miliar dan meluncurkan 20 obat baru pada akhir dekade ini. Obat-obatan kanker akan menjadi kunci untuk mencapai target pendapatan ini.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 29 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia