Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Melemah, Pengaruh Tarif Impor Tambahan AS Atas China

Penulis : Grace El Dora
9 Apr 2025 | 11:45 WIB
BAGIKAN
Suasana penukaran mata uang dolar Amerika ke mata uang rupiah di salah satu pusat penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (6/4/2025). (Foto: B-Universe/ Joanito De Saojoao)
Suasana penukaran mata uang dolar Amerika ke mata uang rupiah di salah satu pusat penukaran mata uang asing di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Minggu (6/4/2025). (Foto: B-Universe/ Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar rupiah hari ini melemah, dipengaruhi tarif impor tambahan yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas China. Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi pemberlakuan tarif impor tambahan sebesar 50% dari AS terhadap barang-barang dari China, sebut Analis Bank Woori Saudara Rully Nova.

“Pengenaan tarif 100% lebih (secara total 104%) terhadap China akan memukul nilai tukar emerging market, termasuk rupiah,” jelas Rully dalam catatan Rabu (9/4/2025).

Kurs rupiah hari ini melemah pada Rabu (9/4/2025) dengan penurunan 72,5 poin (0,43%) menjadi Rp 16.962,5 terhadap dolar AS, menurut data Bloomberg. Terlihat nilai tukar rupiah nyaris menuju level Rp 17.000 terhadap dolar AS.

ADVERTISEMENT

Adapun ancaman tarif tambahan dari AS ini dilakukan setelah pemerintah China memberlakukan tarif timbal balik sebesar 34% terhadap AS. Trump juga telah mengancam China apabila tak membatalkan kenaikan tarif sebesar 34% pada Selasa (8/4/2025), maka pihak AS mengenakan tarif tambahan sebesar 50% pada negara tersebut pada hari ini.

Selain itu, semua pembicaraan dengan China terkait permintaan pertemuan mereka dengan AS akan dihentikan.

Pemberlakuan tarif 34% dari China per 10 April 2025 waktu AS nanti merupakan respons dari tarif timbal balik AS terhadap Negara Tirai Bambu tresebut, yang memberikan tarif sebesar 34% juga.

“Secara keseluruhan, tarif pemerintah AS terhadap barang impor dari China mencapai 104% yang terdiri dari bea tambahan impor sebesar 20%, tarif resiprokal 34%, dan tarif tambahan pada hari ini sebesar 50%,” sebut Rully.

Adapun pemerintah China pada Februari hingga Maret 2025 sudah mengumumkan tarif 15% untuk impor batu bara dan produk gas alam cair dari AS. Ada pula tarif 10% untuk minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil bermesin besar.

Selanjutnya, otoritas China menetapkan tarif tambahan hingga 15% untuk impor produk pertanian utama AS termasuk daging ayam, babi, kedelai, dan daging sapi.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 51 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 9 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia