Rupiah Melemah, Pengaruh Tarif Impor Tambahan AS Atas China
Adapun China tercatat eksportir terbesar kedua AS setelah Meksiko dan pasar ekspor terbesar ketiga AS setelah Kanada dan Meksiko. Negara itu mengekspor US$ 426,9 miliar ke AS berupa ponsel pintar, furnitur, mainan dan produk lainnya, tetapi juga membeli produk-produk AS seperti semikonduktor, bahan bakar fosil, barang pertanian dan barang lain senilai US$ 147,8 miliar.
Sebagai respons atas tarif tambahan dari Amerika, pihak China mengatakan apa yang dilakukan Trump tidak berdasar dan merupakan praktik khas intimidasi sepihak. Karena itu, China akan memberikan tindakan balasan dengan tujuan melindungi kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan negara itu, serta mempertahankan tatanan perdagangan internasional yang normal.
Juru Bicara Kementerian Perdagangan China menegaskan akan berjuang hingga akhir jika pihak bertekad menempuh jalan yang salah dengan memberikan tarif tambahan.
Kendati terjadi perang dagang, Rully menilai pelemahan kurs rupiah tak terlalu dalam seiring intervensi Bank Indonesia (BI) sejak Selasa di pasar spot dan pasar Non-Deliverable Forward (NDF) domestik maupun offshore.
“Dalam jangka pendek, rupiah masih dalam tekanan oleh isu resesi ekonomi dampak dari perang tarif. Dalam jangka menengah, rupiah berpeluang menguat seiring dengan perkembangan negosiasi mengenai tarif dengan Presiden Trump,” kata dia.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu pagi di Jakarta melemah sebesar 20 poin atau 0,21% ke level Rp 16.911 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya di level Rp 16.891 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






