Perang Dagang Trump Menyebarkan Lebih Banyak Kesuraman Bagi Bisnis
Dengan musim pendapatan kuartal I-2025 memasuki minggu sibuk kedua, perusahaan-perusahaan menghitung biaya kekacauan dan menetapkan bagaimana mereka berencana untuk membendung dampaknya.
P&G sebagai raksasa soda dan makanan ringan PepsiCo dan pembuat peralatan medis Thermo Fisher Scientific menjadi perusahaan terbaru yang memangkas perkiraan laba tahunan, dengan alasan gejolak perdagangan. American Airlines menarik panduan keuangan 2025, mengikuti jejak perusahaan sejenis.
Thermo Fisher juga memperingatkan dampak pemotongan dana penelitian akademis yang diusulkan pemerintahan Trump.
Schulten dari P&G mengatakan pemotongan harga dan biaya adalah cara utamanya untuk menghadapi badai karena mengubah sumber bahan bakunya dari China akan sulit dalam jangka pendek karena kurangnya alternatif.
Hampir 30 perusahaan di seluruh dunia telah menarik atau memangkas perkiraan mereka dalam dua minggu terakhir, menurut analisis Reuters.
Sebelumnya pada Kamis, Hyundai Motor mengatakan telah meluncurkan gugus tugas untuk menangani tanggapannya terhadap tarif dan memindahkan produksi beberapa kendaraan crossover Tucson dari Meksiko ke AS.
"Kami memperkirakan prospek bisnis yang menantang akan terus berlanjut karena perang dagang yang semakin intensif dan berbagai faktor ekonomi makro yang tidak dapat diprediksi lainnya," beber produsen mobil tersebut.
Perusahaan tersebut juga mempertimbangkan apakah akan memindahkan produksi beberapa mobil yang akan dikirim ke AS dari Korea Selatan (Korsel) ke lokasi lain, katanya saat menegaskan kembali target pendapatan tahunannya.
Hyundai dan afiliasinya Kia bersama-sama merupakan grup pembuat mobil terbesar ketiga di dunia berdasarkan penjualan. Mereka menghasilkan sekitar sepertiga dari penjualan global dari pasar AS dan impor menyumbang sekitar dua pertiga dari penjualan mobil mereka di AS.
Raksasa e-commerce China JD.com mengatakan hampir 3.000 perusahaan telah mengajukan pertanyaan tentang dana 200 miliar yuan yang diumumkan pada 11 April 2025, untuk membantu eksportir menjual produk mereka di dalam negeri selama tahun depan.
Sentimen Konsumen
Menambah kekhawatiran tentang kelemahan ekonomi, pemerintah Jerman memangkas perkiraan pertumbuhan 2025 pada Kamis. Sekarang pihaknya melihat stagnasi alih-alih ekspansi 0,3% karena ketidakpastian dari sengketa perdagangan global menghambat pertumbuhan dan melemahkan investasi.
Dalam tanda lain dari surutnya kepercayaan konsumen, CEO Essity Magnus Groth mengatakan kepada Reuters bahwa pembuat tisu Swedia telah melihat penurunan permintaan untuk produk kebersihan dari hotel dan restoran di Amerika Utara. Pasalnya, orang-orang makan di luar sudah berkurang dan mungkin memilih untuk tidak bepergian.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler



