Jumat, 15 Mei 2026

Perang Dagang Trump Menyebarkan Lebih Banyak Kesuraman Bagi Bisnis

Penulis : Grace El Dora
25 Apr 2025 | 15:16 WIB
BAGIKAN
Sebuah truk bermuatan hasil bumi dari Meksiko dan Kanada melewati Pharr, Texas, Selasa (4/4/2025). (Foto: AP/ Eric Gay)
Sebuah truk bermuatan hasil bumi dari Meksiko dan Kanada melewati Pharr, Texas, Selasa (4/4/2025). (Foto: AP/ Eric Gay)

LONDON, investor.id – Perang dagang yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebarkan lebih banyak kesuraman bagi bisnis secara global. Bisnis di berbagai industri mulai menaikkan harga, memangkas panduan keuangan, dan memperingatkan tentang meningkatnya ketidakpastian karena perang dagang mendorong kenaikan biaya, mengacaukan rantai pasokan, dan menimbulkan kekhawatiran tentang ekonomi global.

Rilis pendapatan perusahaan yang mulai keluar pada Kamis (25/4/2025) menunjukkan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia menghadapi ketidakpastian pada kuartal I-2025. Para eksekutif mendapati diri mereka menavigasi sikap pemerintahan Trump yang terus berubah-ubah terhadap perdagangan.

Komentar dari perusahaan makanan, minuman, dan barang konsumsi kemasan terbesar juga menegaskan kekhawatiran di antara para pelaku bisnis dan investor. Mereka khawatir tarif Trump dan serangannya terhadap ketua dewan gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell akan merusak kepercayaan di Main Street.

ADVERTISEMENT

"Kami harus mengerahkan segala daya yang kami miliki untuk mengurangi dampak tarif dalam struktur biaya dan laba rugi kami," ucap CFO Procter & Gamble Andre Schulten seperti dikutip Reuters, Jumat (25/4/2025). Sebelumnya, produsen Pampers itu mengumumkan rencana menaikkan harga guna menutupi dampak biaya tambahan dari perang tarif yang meluas.

CEO Nestle Laurent Freixe dan produsen sabun Dove Unilever juga menandai melemahnya kepercayaan konsumen AS.

Saham AS bergerak fluktuatif pada Kamis (24/4/2025) dan penguatan dolar AS melemah. Pasalnya, investor mencoba mencermati pengumuman pemerintahan Trump yang berubah cepat tentang tarif dan kepemimpinan bank sentral AS.

Sementara sebagian besar tarif telah dihentikan selama 90 hari hingga 8 Juli 2025, tarif universal 10% dan bea masuk atas impor aluminium, baja, dan mobil tetap berlaku. Ini sama seperti pungutan besar atas barang-barang yang diimpor dari China, yang ditanggapi dengan cara serupa oleh pemerintah China.

Pemerintahan Trump akan mempertimbangkan untuk menurunkan tarif impor barang-barang China sambil menunggu perundingan antara kedua negara, kata seorang sumber kepada Reuters.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia