Istana Terangkan Alasan Prabowo Pilih Ketemu Putin Ketimbang Hadiri KTT G7
JAKARTA, investor.id – Istana menerangkan alasan Presiden Prabowo Subianto yang tak memenuhi undangan untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 2025 di Kanada. Presiden Prabowo memilih untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kepala Kantor Komunikasi Presiden (Presidential Communication Office/ PCO) Hasan Nasbi mengatakan, Presiden Prabowo absen di KTT G7 karena harus memenuhi undangan dari Presiden Rusia Vladimir Putin dan menghadiri St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025.
Adapun KTT G7 digelar pada 16-17 Juni 2025, kata Hasan, bentrok dengan kunjungan kenegaraan presiden ke Rusia. Oleh karena itu, presiden tak bisa mendatangi kedua agenda tersebut sekaligus. Dikatakan, presiden memilih untuk datang ke Rusia karena undangan yang diterima datang lebih dulu yaitu sejak Maret atau April 2025, sementara undangan dari Kanada untuk G7 baru diterima awal Juni 2025.
Meski demikian, kepala negara tetap menghargai undangan G7 dari Kanada. Menurutnya, undangan tersebut menandakan Indonesia memiliki posisi kuat di kancah global.
"Nah, undangan dari pemerintah Rusia untuk menghadiri St. Petersburg International Economic Forum mungkin sudah dari beberapa bulan yang lalu. Mungkin sudah dari bulan Maret atau April, dan sudah dipersiapkan lama. Presiden juga akan berpidato di sana. Waktunya bentrok, waktunya beririsan dengan waktu pelaksanaan G7 Summit di Kanada," jelas Hasan di kantor PCO, Jakarta, Senin (16/6/2025).
Baca Juga:
Respons Putin atas Perang Israel vs IranHasan menuturkan, Presiden Prabowo mengutamakan komitmen-komitmen yang telah dibuat lebih dulu. Sebelum bertolak ke Rusia, kepala negara juga menyambangi Singapura untuk menghadiri Annual Leaders Retreat dengan Perdana Menteri (PM) Lawrence Wong sekaligus meneken berbagai kerja sama strategis.
"Karena komitmen dengan Rusia sudah dibuat jauh-jauh hari, komitmen dengan pemerintah Singapura juga sudah dibuat. Ini kan jadwal tahunan dan juga sudah dipersiapkan lama," imbuh Hasan.
Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Hasan membantah anggapan absennya Prabowo di G7 karena Indonesia memilih untuk mendekati Rusia daripada negara barat. Ia menekankan, Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif sehingga tidak condong ke blok mana pun. Indonesia, katanya, siap aktif di berbagai forum global demi kepentingan nasional.
Sebagai contoh, ia menyinggung keanggotaan di BRICS yang berisikam negara-negara dengan perekonomian berkembang pesat meliputi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan Namun, di sisi lain, Indonesia terus mengupayakan untuk menjadi anggota OECD yang notabene banyak diisi oleh negara-negara Barat.
"Jadi dalam pendirian politik kita yang bebas aktif, kita tidak akan condong ke salah satu blok. Kita akan bergabung ke blok ekonomi. Ingat blok ekonomi. Kita enggak akan masuk ke dalam blok militer, blok pertahanan. Kita masuk dalam blok ekonomi selama itu menguntungkan buat bangsa kita," tandasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





