Jumat, 15 Mei 2026

Trump Gemparkan Perdagangan Global Hanya dengan 6 Bulan Jadi Presiden

Penulis : Jeanna Smialek dan Ana Swanson (The New York Times)
12 Jul 2025 | 10:20 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump  (Foto: AP/ Jacquelyn Martin)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump (Foto: AP/ Jacquelyn Martin)

Kendati beberapa negara sudah menjalin kesepakatan awal, semua bisa berubah dalam sekejap. Vietnam, misalnya, awalnya mencapai kesepakatan tarif 20%-40% untuk produk-produk tertentu, namun Trump secara sepihak mengubah isi perjanjian setelah berbicara dengan Sekretaris Jenderal Vietnam, To Lam.

Tiga sumber menyatakan pemerintah Vietnam belum menyetujui angka-angka tarif itu, dan negosiasi masih berlanjut. Bahkan belum ada pernyataan resmi bersama dari kedua negara.

Sementara itu, Kanada sempat hampir mencapai kesepakatan, namun negosiasi terganggu akibat rencana pajak layanan digital yang dikenakan pada perusahaan teknologi AS. Setelah Trump menekan, Kanada pun mencabut rencana pajak tersebut, hanya untuk kembali diberi tarif 35% lewat surat yang diterima Kamis (10/7/2025).

ADVERTISEMENT

Kejutan juga datang untuk Brasil. Trump tiba-tiba mengumumkan tarif 50% bagi Negeri Samba sebagai bentuk protes atas perlakuan terhadap Bolsonaro. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva langsung menanggapi dengan mengatakan Brasil adalah negara berdaulat yang tidak bisa diperlakukan seenaknya.

India juga tak luput dari ancaman. Trump menyatakan dalam pertemuan pekan ini bahwa seluruh impor produk farmasi akan dikenai tarif “sangat tinggi, mungkin 200%” setelah satu tahun. Ini bisa menjadi pukulan telak, mengingat ekspor farmasi India ke AS mencapai hampir US$ 30 miliar tahun lalu.

Di sisi lain, Uni Eropa, mitra dagang terbesar AS, masih menunggu nasib. Negosiasi masih berlangsung dengan rencana tarif dasar 10% dan imbal balik berupa peningkatan investasi di AS. Namun para pejabat Eropa tahu betul, semua bisa berantakan dalam sekejap. “Ini seperti operasi darurat yang berjalan terus menerus,” ujar Andrew Small, peneliti senior di German Marshall Fund.

Juru bicara Gedung Putih Kush Desa mengklaim, banyak negara masih mau memberi konsesi demi menjaga akses ke pasar AS. “Amerika adalah pasar konsumen terbaik di dunia. Kami memegang kartu truf,” katanya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia