Jumat, 15 Mei 2026

Eks PM Israel Kecam Netanyahu di Tengah Perundingan Gencatan Senjata dengan Hamas

Penulis : Grace El Dora
12 Jul 2025 | 18:55 WIB
BAGIKAN
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan eks PM Israel Ehud Olmert.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan eks PM Israel Ehud Olmert.

Di dalam negeri, Olmert menggambarkan meningkatnya tuntutan di dalam Israel untuk sebuah resolusi.

"Mayoritas rakyat Israel ingin perang berakhir hari ini. Mereka ingin para sandera berakhir hari ini. Jadi, jika dilihat dari perspektif Presiden Trump, saya rasa ia mendapat dukungan terbesar dari mayoritas rakyat Israel untuk menjalankan wewenangnya dan memaksa Perdana Menteri Israel untuk mematuhi tuntutannya," sambungnya.

Menyoroti korban jiwa, Olmert tidak tinggal diam.

"60.000 warga Palestina tewas, dan ribuan anak-anak Palestina membayar harga yang mengerikan ini atas perang yang dimulai oleh Hamas," kata dia.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, Olmert menyarankan pergeseran prioritas. "Pada titik ini, lebih penting untuk membawa kembali para sandera daripada melanjutkan apa yang tampaknya merupakan perang tanpa tujuan spesifik yang dapat dicapai," lanjutnya.

Menurut Olmert, Hamas tidak lagi menjadi ancaman militer yang berarti, "Israel telah sepenuhnya membasmi dan menghancurkan kapasitas militer Hamas... Hamas tidak lagi menimbulkan ancaman signifikan bagi negara Israel," ucap Olmert.

Ia memperingatkan, memperpanjang perang dapat terbukti lebih mahal daripada yang diperlukan. Melanjutkan operasi militer ini, katanya, tidak sebanding dengan kemungkinan hilangnya nyawa begitu banyak tentara dan 50 sandera Israel yang masih disandera Hamas.

Ketika ditanya tentang gagasan Trump untuk mengubah Gaza menjadi "Riviera Prancis-nya Timur Tengah", Olmert menjawab dengan tegas. "Saya tidak mendukung deportasi warga Palestina dari Gaza. Gaza adalah wilayah Palestina, dan warga Palestina tinggal di Gaza, dan mereka seharusnya tinggal di Gaza," katanya dalam laporan itu. Ia mengatakan, prioritasnya seharusnya adalah mencegah kendali Gaza di masa mendatang oleh kelompok-kelompok teroris.

Olmert juga mengkritik legitimasi politik Netanyahu. "Meskipun Perdana Menteri Netanyahu saat ini masih memegang mayoritas teknis di parlemen, para anggotanya terpilih hampir tiga tahun yang lalu. Hal ini tidak mencerminkan suasana hati dan sikap mayoritas warga Israel saat ini," sebutnya lagi.

Ia mengutip tren jajak pendapat dan mengatakan bahwa dalam semua jajak pendapat yang diselenggarakan di Israel, lebih dari 60% warga Israel mengatakan mereka tidak mempercayai dan tidak mendukung Netanyahu.

"Saya pikir ada suara yang berbeda dari Israel, suara belas kasih, suara kompromi, suara toleransi, dan suara keinginan untuk mengakhiri permusuhan dan membangun dasar kerja sama politik dengan Palestina demi penyelesaian konflik historis. Dan Netanyahu jelas bukan orang yang bisa menjadi bagian darinya. Ia harus lengser, dan ia akan lengser, dan saya harap ia akan segera lengser," jelas Ehud Olmert, dengan nada memperingatkan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 48 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia