Ancaman Disrupsi AI Jadi Guncangan Besar Pasar Kredit Global
NEW YORK, investor.id – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) tidak hanya mengubah lanskap bursa saham, tetapi kini mulai mengancam stabilitas pasar kredit global. Analis dari bank investasi UBS Matthew Mish memperingatkan, disrupsi AI dapat memicu gelombang gagal bayar (default) utang perusahaan senilai miliaran dolar dalam waktu dekat.
Menurut laporan riset UBS yang dirilis pekan ini, risiko ini mengintai perusahaan-perusahaan di sektor perangkat lunak (software) dan layanan data, terutama yang dimiliki oleh perusahaan ekuitas swasta (private equity) dengan beban utang tinggi.
Disrupsi Datang Lebih Cepat dari Perkiraan
Matthew Mish, Kepala Strategi Kredit di UBS, mengungkapkan bahwa kemajuan pesat model AI terbaru dari Anthropic dan OpenAI telah memaksa pasar untuk mengevaluasi ulang risiko kredit.
"Pasar lambat bereaksi karena mereka tidak menyangka disrupsi ini terjadi secepat ini. Kini, investor harus mengalibrasi ulang cara menilai risiko kredit karena masalah ini bukan lagi masalah pada 2027 atau 2028, melainkan masalah saat ini," ujar Mish seperti dikutip CNBC internasional, Sabtu (14/2/2026).
Potensi Gagal Bayar hingga US$ 120 Miliar
Dalam skenario dasar yang disusun UBS, diperkirakan akan ada tambahan gagal bayar sebesar US$ 75 miliar hingga US$ 120 miliar pada akhir tahun ini. Angka tersebut berasal dari estimasi kenaikan tingkat gagal bayar sebesar 2,5% pada pasar pinjaman beragun (leveraged loans) dan 4% pada pasar kredit swasta (private credit).
Saat ini, pasar leveraged loans diperkirakan bernilai US$ 1,5 triliun, sementara pasar kredit swasta mencapai US$ 2 triliun.
Risiko Credit Crunch
Mish juga menyoroti skenario terburuk (tail risk) di mana transisi AI yang menyakitkan dapat melipatgandakan angka gagal bayar tersebut. Jika hal ini terjadi, akan muncul fenomena credit crunch atau pengetatan likuiditas yang parah.
"Dampak beruntunnya adalah pengetatan di pasar pinjaman, penetapan harga ulang secara luas pada kredit berisiko, dan guncangan hebat pada sistem keuangan yang bersumber dari pasar kredit," jelasnya.
Baca Juga:
Go Global, Pegadaian Raih Penghargaan Internasional atas Penerbitan Sukuk dan Social BondsTiga Kategori Perusahaan di Era AI
UBS membagi perusahaan ke dalam tiga kelompok berdasarkan ketahanannya terhadap AI:
- Para Pencipta: Perusahaan pengembang model bahasa besar (LLM) seperti Anthropic dan OpenAI.
- Raksasa Mapan: Perusahaan perangkat lunak besar seperti Salesforce dan Adobe yang memiliki neraca keuangan kuat dan mampu mengadopsi AI untuk melawan kompetitor.
- Kelompok Berisiko: Perusahaan perangkat lunak dan data menengah milik private equity dengan utang tinggi. Kelompok inilah yang diprediksi paling sulit bertahan di tengah disrupsi ini.
Hubungan Pasar Kredit dan Keberlangsungan Perusahaan Teknologi
Pasar kredit, khususnya leveraged loans dan private credit, merupakan jantung pendanaan bagi banyak perusahaan teknologi kelas menengah yang tidak terdaftar di bursa saham. Selama satu dekade terakhir, banyak perusahaan software tumbuh pesat dengan memanfaatkan utang berbunga rendah untuk mendanai operasional dan akuisisi.
Namun, munculnya AI generatif mengubah fundamental bisnis mereka secara drastis. Layanan data atau perangkat lunak yang dulu bernilai tinggi kini bisa digantikan oleh solusi AI yang lebih murah dan efisien.
Ketika pendapatan perusahaan mulai tergerus oleh kompetitor AI, sementara beban cicilan utang tetap tinggi, perusahaan-perusahaan ini menghadapi risiko kebangkrutan.
Guncangan di pasar kredit ini menjadi krusial karena bersifat sistemik; kegagalan satu sektor besar dapat menarik kepercayaan investor keluar dari pasar keuangan secara keseluruhan, yang berujung pada perlambatan ekonomi global.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

