Sabtu, 4 April 2026

Ancaman Disrupsi AI Jadi Guncangan Besar Pasar Kredit Global

Penulis : Grace El Dora
14 Feb 2026 | 19:03 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi teknologi kecerdasan artificial (artificial intelligence/ AI). (Sumber: AP)
Ilustrasi teknologi kecerdasan artificial (artificial intelligence/ AI). (Sumber: AP)

NEW YORK, investor.id – Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) tidak hanya mengubah lanskap bursa saham, tetapi kini mulai mengancam stabilitas pasar kredit global. Analis dari bank investasi UBS Matthew Mish memperingatkan, disrupsi AI dapat memicu gelombang gagal bayar (default) utang perusahaan senilai miliaran dolar dalam waktu dekat.

Menurut laporan riset UBS yang dirilis pekan ini, risiko ini mengintai perusahaan-perusahaan di sektor perangkat lunak (software) dan layanan data, terutama yang dimiliki oleh perusahaan ekuitas swasta (private equity) dengan beban utang tinggi.

Disrupsi Datang Lebih Cepat dari Perkiraan

Matthew Mish, Kepala Strategi Kredit di UBS, mengungkapkan bahwa kemajuan pesat model AI terbaru dari Anthropic dan OpenAI telah memaksa pasar untuk mengevaluasi ulang risiko kredit.

Advertisement

"Pasar lambat bereaksi karena mereka tidak menyangka disrupsi ini terjadi secepat ini. Kini, investor harus mengalibrasi ulang cara menilai risiko kredit karena masalah ini bukan lagi masalah pada 2027 atau 2028, melainkan masalah saat ini," ujar Mish seperti dikutip CNBC internasional, Sabtu (14/2/2026).

Potensi Gagal Bayar hingga US$ 120 Miliar

Dalam skenario dasar yang disusun UBS, diperkirakan akan ada tambahan gagal bayar sebesar US$ 75 miliar hingga US$ 120 miliar pada akhir tahun ini. Angka tersebut berasal dari estimasi kenaikan tingkat gagal bayar sebesar 2,5% pada pasar pinjaman beragun (leveraged loans) dan 4% pada pasar kredit swasta (private credit).

Saat ini, pasar leveraged loans diperkirakan bernilai US$ 1,5 triliun, sementara pasar kredit swasta mencapai US$ 2 triliun.

Risiko Credit Crunch

Mish juga menyoroti skenario terburuk (tail risk) di mana transisi AI yang menyakitkan dapat melipatgandakan angka gagal bayar tersebut. Jika hal ini terjadi, akan muncul fenomena credit crunch atau pengetatan likuiditas yang parah.

"Dampak beruntunnya adalah pengetatan di pasar pinjaman, penetapan harga ulang secara luas pada kredit berisiko, dan guncangan hebat pada sistem keuangan yang bersumber dari pasar kredit," jelasnya.

Tiga Kategori Perusahaan di Era AI

UBS membagi perusahaan ke dalam tiga kelompok berdasarkan ketahanannya terhadap AI:

- Para Pencipta: Perusahaan pengembang model bahasa besar (LLM) seperti Anthropic dan OpenAI.

- Raksasa Mapan: Perusahaan perangkat lunak besar seperti Salesforce dan Adobe yang memiliki neraca keuangan kuat dan mampu mengadopsi AI untuk melawan kompetitor.

- Kelompok Berisiko: Perusahaan perangkat lunak dan data menengah milik private equity dengan utang tinggi. Kelompok inilah yang diprediksi paling sulit bertahan di tengah disrupsi ini.

Hubungan Pasar Kredit dan Keberlangsungan Perusahaan Teknologi

Pasar kredit, khususnya leveraged loans dan private credit, merupakan jantung pendanaan bagi banyak perusahaan teknologi kelas menengah yang tidak terdaftar di bursa saham. Selama satu dekade terakhir, banyak perusahaan software tumbuh pesat dengan memanfaatkan utang berbunga rendah untuk mendanai operasional dan akuisisi.

Namun, munculnya AI generatif mengubah fundamental bisnis mereka secara drastis. Layanan data atau perangkat lunak yang dulu bernilai tinggi kini bisa digantikan oleh solusi AI yang lebih murah dan efisien.

Ketika pendapatan perusahaan mulai tergerus oleh kompetitor AI, sementara beban cicilan utang tetap tinggi, perusahaan-perusahaan ini menghadapi risiko kebangkrutan.

Guncangan di pasar kredit ini menjadi krusial karena bersifat sistemik; kegagalan satu sektor besar dapat menarik kepercayaan investor keluar dari pasar keuangan secara keseluruhan, yang berujung pada perlambatan ekonomi global.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Finance 18 menit yang lalu

Bank Mantap Dukung Taspen Tingkatkan Kualitas Hunian Masyarakat

PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) mendukung langkah PT Taspen (Persero) dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Business 30 menit yang lalu

PLN Icon Plus Cegah Stunting melalui Kolaborasi Posyandu di Srondol Wetan

PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) cegah stunting.
Lifestyle 31 menit yang lalu

Vaksinasi Wajib yang Harus Dilengkapi Calon Jamaah Haji

Berdasarkan regulasi terbaru penyelenggaraan haji 2026 dari Kementerian Kesehatan, terdapat vaksin yang wajib dipenuhi oleh calon jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 4 April 2026, Cek Rinciannya

Berikut adalah daftar harga emas perhiasan dalam berbagai kadar karat pada Sabtu, 4 April 2026
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: BBCA Diborong Asing hingga Harga Emas Antam (ANTM) Runtuh

Berita populer dalam 24 jam terakhir, mulai dari BBCA diborong asing hingga harga emas Antam (ANTM) runtuh
Market 3 jam yang lalu

Harga CPO Melejit, Tren Naik Berlanjut

Harga CPO di Bursa Malaysia melejit, lanjutkan tren naik 5 pekan, didorong minyak nabati global dan lonjakan harga energi

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia