Sabtu, 4 April 2026

Ambisi Trump di Iran: Diplomasi Nuklir atau Genderang Perang Baru?

Penulis : Grace El Dora
23 Feb 2026 | 17:39 WIB
BAGIKAN
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei (kiri) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

WASHINGTON, investor.id – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menebar ancaman serangan terhadap Iran, meski hingga kini Gedung Putih belum merinci apa tujuan jangka panjang dari konfrontasi militer tersebut.

Dengan pengerahan kapal induk dan puluhan jet tempur ke kawasan tersebut, dunia kini bertanya-tanya. Apakah Trump akan melakukan serangan bedah (surgical strikes) terhadap Garda Revolusi Iran, menghancurkan program rudal balistiknya, atau justru memaksakan pergantian rezim di Teheran?

Trump menyatakan akan memutuskan dalam 10 hingga 15 hari ke depan apakah serangan militer akan diluncurkan jika kesepakatan nuklir baru tidak tercapai. Laporan dari Axios yang dikutip AFP pada Senin (23/2/2026) menyebutkan Trump telah disodori berbagai opsi militer, termasuk serangan langsung yang menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.

Meskipun Trump sering menyatakan preferensi pada jalur diplomasi, ia menuntut syarat berat. Ia mendesak Iran menghentikan program nuklir, membatasi kemampuan rudal balistik, dan memutus dukungan bagi kelompok militan seperti Hizbullah dan Hamas. Sejauh ini, pihak Iran dengan tegas menolak konsesi tersebut.

Advertisement

Tekanan Maksimal dan Pertaruhan Regional

Utusan Trump Steve Witkoff menyebut presiden "terkejut" karena Iran belum juga menyerah meski AS telah membangun kekuatan militer besar-besaran. Analis dari Middle East Institute Alex Vatanka menilai pemerintah AS kemungkinan besar mengincar konflik terbatas untuk mengubah keseimbangan kekuatan tanpa terjebak dalam perang yang berkepanjangan.

Namun, langkah ini memicu kekhawatiran besar:

- Reprisal Iran: Pemerintah Iran mengancam balasan hebat jika diserang.

- Kekhawatiran di dalam negeri: Partai Demokrat AS khawatir Trump menyeret Amerika ke dalam kekacauan kekerasan tanpa izin Kongres.

- Ketakutan Sekutu AS: Kerajaan Arab di Teluk memperingatkan Trump agar tidak mengintervensi, karena takut menjadi sasaran serangan balasan Iran.

Ambisi Trump di Iran: Diplomasi Nuklir atau Genderang Perang Baru?
Kendaraan melintas di dekat monumen Azadi (Kebebasan) di Teheran, Iran pada Minggu (22/2/2026). (Foto: AP/ Vahid Salemi)

Perbandingan dengan Venezuela

Mona Yacoubian dari Center for Strategic and International Studies memperingatkan, masalah dengan Iran jauh lebih kompleks daripada Venezuela yang diserang AS pada Januari 2026 untuk menangkap Nicolas Maduro. Struktur kekuasaan di Iran tersebar, sehingga serangan yang menargetkan pucuk pimpinan justru berisiko memicu kekacauan internal yang tak terkendali di seluruh kawasan.

Ketegangan antara AS dan Iran bukanlah fenomena baru, namun eskalasinya mencapai tingkat yang berbahaya pada awal 2026. Akar konflik modern ini bermula sejak penarikan diri AS secara sepihak dari perjanjian nuklir JCPOA pada 2018 di periode pertama kepemimpinan Trump.

Sejak saat itu, kebijakan "Tekanan Maksimal" melalui sanksi ekonomi telah mencekik Iran.

Hubungan kedua negara semakin memburuk menyusul keterlibatan tidak langsung mereka dalam berbagai konflik regional, termasuk perang 12 hari antara Israel dan faksi-faksi yang didukung Iran pada Juni 2025.

Bagi Trump, Iran dianggap sebagai penghambat utama visi "Perdamaian Timur Tengah" yang ia usung. Namun, bagi Teheran, kehadiran militer AS di depan pintu rumah mereka dianggap sebagai ancaman eksistensial yang melandasi kerasnya sikap mereka di meja perundingan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 40 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 50 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 1 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 2 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 2 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 2 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia