Harga Minyak Dunia Diprediksi Capai Puncak dalam Beberapa Pekan ke Depan
WASHINGTON, investor.id – Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright memperingatkan harga minyak dunia kemungkinan besar akan mencapai titik tertingginya dalam beberapa pekan mendatang. Kenaikan ini dipicu oleh terhentinya lalu lintas kapal di Selat Hormuz akibat konflik yang berkepanjangan.
Dalam forum ekonomi di Washington, Wright menyatakan tren kenaikan harga akan terus berlanjut hingga jalur perdagangan vital tersebut kembali dibuka secara signifikan.
"Kita akan melihat harga energi tetap tinggi, dan bahkan mungkin terus meningkat, sampai ada lalu lintas kapal yang berarti melalui Selat Hormuz. Puncaknya kemungkinan terjadi saat jalur itu mulai pulih, mungkin dalam beberapa pekan ke depan," ujar Wright seperti dikutip Reuters, Selasa (14/4/2026).
Dampak Blokade Jalur Laut
Krisis ini bermula sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026. Iran telah memblokade Selat Hormuz bagi hampir seluruh kapal asing dan berencana memungut biaya retribusi bagi kapal yang melintas. Sebagai respons, militer AS melancarkan blokade balasan yang kini diperluas hingga ke Teluk Oman dan Laut Arab setelah negosiasi akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengakui tingginya harga bahan bakar kemungkinan akan bertahan hingga pemilihan umum sela (midterm elections) pada November 2026. Ini merupakan pengakuan langka mengenai dampak politik dari keputusannya menyerang Iran enam pekan lalu.
Kabar Baik dari Venezuela
Di tengah krisis Timur Tengah, pemerintah AS melaporkan adanya peningkatan produksi minyak dari Venezuela. Pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari 2026, pemerintahan sementara Venezuela melakukan reformasi hukum minyak besar-besaran untuk menarik investasi asing.
Chris Wright mengungkapkan beberapa poin penting terkait produksi di Amerika Latin:
- Peningkatan Produksi: Produksi minyak Venezuela melonjak 25% sejak awal tahun.
- Penjualan Masif: Sebanyak 150 juta barel minyak Venezuela telah berhasil dijual sejak 3 Januari.
- Ekspansi Chevron: Perusahaan minyak raksasa Chevron baru saja menandatangani dua kesepakatan baru untuk meningkatkan produksi di wilayah minyak mentah ekstra berat Venezuela.
Langkah ini diharapkan dapat membantu menyeimbangkan pasokan pasar global yang saat ini sedang terguncang oleh situasi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur air paling strategis di dunia, yang menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melintasi selat sempit ini setiap harinya.
Konflik bersenjata yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah mengubah wilayah ini menjadi titik panas militer yang melumpuhkan logistik energi internasional. Ketika aliran minyak melalui selat ini terganggu, pasar global bereaksi dengan lonjakan harga seketika.
Upaya AS mengalihkan fokus produksi ke Venezuela dipandang sebagai langkah darurat untuk mencegah krisis energi yang lebih dalam, meskipun pemulihan stabilitas di Timur Tengah tetap menjadi kunci utama untuk menurunkan harga minyak ke level normal.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






