Jumat, 15 Mei 2026

Listrik Desa dan Astha Cita: Energi untuk Keadilan Sosial

Penulis : Investor.id
29 Jul 2025 | 20:00 WIB
BAGIKAN
Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira. (B-Universe Photo/Yustinus Patris Paat)
Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira. (B-Universe Photo/Yustinus Patris Paat)

Oleh: Anggawira*)

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang mendorong arah baru pembangunan nasional berbasis Astha Cita-delapan agenda prioritas yang tidak hanya menjanjikan percepatan, tetapi juga pemerataan pembangunan. Salah satu pilar penting dalam Astha Cita adalah mewujudkan swasembada energi dan ketahanan nasional.

Dalam konteks ini, program elektrifikasi desa menjadi sangat strategis. Ia bukan sekadar soal pemasangan kabel dan tiang listrik, melainkan bagian dari cita-cita besar negara produsen dan ekonomi berdikari yang menjangkau hingga ke pelosok.

ADVERTISEMENT

10.068 Desa Belum Teraliri Listrik

Data terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan masih terdapat 10.068 desa di Indonesia yang belum mendapatkan akses listrik memadai. Untuk menyelesaikan tantangan ini, pemerintah melalui PLN telah menyiapkan program Listrik Desa (Lisdes) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2029.

Targetnya: 780.000 rumah tangga di desa-desa tertinggal akan mendapatkan akses listrik dalam lima tahun ke depan. Total kebutuhan investasi yang dibutuhkan untuk mencapai elektrifikasi menyeluruh ini diperkirakan mencapai Rp500,1 triliun (Antara, 2025).

Langkah ini merupakan tindak lanjut konkret dari komitmen negara untuk mengakhiri ketimpangan pembangunan dan mendorong daya saing kawasan terpencil.

Turun ke Lapangan

Menariknya, komitmen ini tidak hanya berhenti di atas kertas. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, bersama Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, bergerak cepat meninjau langsung wilayah-wilayah terluar yang belum teraliri listrik. Salah satu kunjungan dilakukan ke Kabupaten Sarmi, Papua, yang menjadi simbol keterpencilan sekaligus ujian kehadiran negara.

Gerakan cepat ini menunjukkan paradigma baru birokrasi yang tidak hanya administratif, tetapi juga responsif dan eksekutorial. Negara tidak hadir dalam wacana, tetapi hadir dengan tindakan.

Editor: Emanuel

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 5 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia