Investasi untuk Masa Depan di Balik Segarnya Susu
JAKARTA, investor.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi pilar kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan susu bukan sekadar pelengkap menu, melainkan sebagai instrumen strategis dalam menciptakan Generasi Emas 2045. Hal ini sebagai respons atas rendahnya konsumsi protein hewani nasional yang berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.
Tercatat, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia baru mencapai sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Angka ini tertinggal jauh dari Malaysia (42,7 liter), Vietnam (37,2 liter), dan Singapura (46,1 liter). Padahal kandungan yang ada dalam susu sangat dibutuhkan oleh tubuh, terutama anak usia sekolah.
Program MBG sejalan dengan target global School Meals Coalition 2030, yang bertujuan mengatasi malnutrisi, kemiskinan, dan meningkatkan capaian pendidikan. Program ini menyasar peserta didik dari PAUD hingga SMA/SMK/MA atau sederajat, serta ibu hamil, menyusui, dan balita.
Konsumsi susu yang teratur terbukti secara ilmiah membantu pertumbuhan tulang dan otak serta memperbaiki status gizi pada kelompok ekonomi rentan. Menurut ahli gizi yang juga Founder Ramayulis Konsultan Indonesia Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, konsumsi ragam makanan itu penting. Sementara terkait susu, sebagai bagian dari kelompok protein hewani mengandung protein yang tinggi, juga kalsium dan berbagai mikronutrien.
“Untuk anak usia sekolah jika mengonsumsi susu, tentu saja akan mendapatkan asupan protein dan kalsium yang memang unggul dibanding pada jenis makanan lainnya dan juga mikronutrien seperti vitamin d,” katanya kepada Investor Daily, Jumat (27/02/2026).
Menurut Dr Rita, dari sisi takaran ideal,tidak ada aturan baku. Namun mengacu pada pembagian bahan makanan sehari yang dianjurkan pada gizi seimbang, untuk anak usia sekolah dianjurkan mengonsumsi 1-2 porsi atau 1-2 gelas per hari.
Adapun jenis susu yang ideal, pada dasarnya semuanya sama, baik susu cair yang hanya melalui proses pemanasan ataupun susu yang difortifikasi. “Tergantung kebutuhannya, ada yang memang butuh protein lebih banyak, atau kalsium yang lebih banyak,” katanya. Yang tidak boleh adalah, kata dia, minuman yang berasa susu , padahal kandungannya hanya air dan gula. Yang terpenting lagi yang harus diperhatikan adalah kemasan susu yang tidak boleh rusak, untuk menjamin kualitas susu terjaga dengan baik.
Editor: Euis Rita Hartati
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Strategi Trisula (TRIS) Genjot Kinerja 2026
PT Trisula International Tbk (TRIS) menyiapkan strategi untuk memacu kinerja perusahaan pada tahun 2026.Perkuat Kapasitas Serapan, Bulog akan Bangun 100 Gudang Penyimpanan Baru
Perum Bulog akan menambah 100 gudang penyimpanan untuk memperkuat infrastruktur pascapanen dan meningkatkan kapasitas serapan petani.Presiden Prabowo akan Sambut Kedatangan 3 Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon
Presiden Prabowo dijadwalkan menyambut kedatangan tiga jenazah prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.Enam Minggu Perang, Ribuan Nyawa Melayang dan 3 TNI Gugur
Update korban perang Timur Tengah: 3.500 tewas di Iran, 13 tentara AS gugur, dan 3 prajurit TNI Indonesia tewas saat tugas PBB di Lebanon.Perum Bulog Catat Stok Beras 4,4 Juta Ton, Lampaui Target 2026
Perum Bulog mencatat stok beras nasional 4,4 juta ton melebihi target serapan sebesar 4 juta ton. Swasembada pangan optimistis tercapai.Trump Usulkan ’Golden Dome’ dan Anggaran Perang Rp 25,5 Kuadriliun
Presiden Trump usulkan anggaran militer AS 2027 US$ 1,5 triliun. Fokus pada sistem pertahanan Golden Dome dan pangkas dana domestik.Tag Terpopuler
Terpopuler






