Kamis, 14 Mei 2026

Kemiskinan-Pengangguran Harus Masuk Asumsi APBN

Penulis : Oleh Nurjoni dan Iwan Subarkah
21 Apr 2014 | 12:55 WIB
BAGIKAN

JAKARTA – Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diminta memasukkan angka kemiskinan dan pengangguran dalam asumsi makro ekonomi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 dan tahun-tahun berikutnya. Pencantuman asumsi makro ekonomi tersebut akan membuat pemerintahan mendatang lebih fokus dalam penurunan angka kemiskinan dan pengangguran.

Selain kemiskinan dan pengangguran, angka penciptaan lapangan kerja juga menjadi alternatif untuk dicantumkan dalam asumsi makro ekonomi APBN. Terciptanya lapangan kerja baru menunjukkan keseriusan pemerintah dalam upaya menurunkan angka pengangguran sehingga dapat memperkecil kesenjangan sosial-ekonomi masyarakat kaya dan miskin.

Selain penambahan asumsi makro ekonomi, pemerintahan mendatang harus mampu mengubah postur APBN dan merancang sektor-sektor yang menjadi prioritas pembangunan, sehingga dana APBN yang terbatas memiliki daya ungkit ekonomi nasional yang kuat. Selama ini hanya sekitar 20% dana APBN yang dapat digunakan untuk belanja pembangunan, selebihnya dialokasikan untuk
membayar beban utang luar negeri, subsidi, belanja pegawai, dan pendidikan.

Demikian rangkuman pandangan Direktur Eksekutif Institute for the Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Mudrajat Kuncoro, pengamat ekonomi UGM Sri Adiningsih, pengamat ekonomi sekaligus Sekretaris Komisi Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani, dan ekonom dari Center for Information and Development Studies (Cides) Umar Juoro.

Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah, Sabtu (19/4). Ahmad Erani Yustika mengatakan, pembahasan tingkat pengangguran dan kemiskinan dalam penyusunan APBN bukan hal baru. Bahkan, kedua hal itu selalu dibahas oleh pemerintah dan DPR dalam setiap pembahasan APBN.

Baca selengkapnya di Investor Daily versi cetak di https://subscribe.investor.id

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 5 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 35 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 46 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia