Kinerja APBN Tetap Solid di Tengah Gejolak Perekonomian Global
JAKARTA, investor.id – Pemerintah terus mewaspadai tekanan global baik akibat kondisi dinamika geopolitik, volatilitas pasar, kerentanan perbankan Amerika Serikat (AS), hingga kontraksi manufaktur global. Dalam hal ini, pemerintah berupaya menjaga kinerja APBN agar tetap solid dan resilien guna menjaga momentum dan pemulihan ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi menggambarkan daya tahan ekonomi yang cukup baik dan momentum penguatan APBN terus kami jaga. Surplus APBN di April 2023 baik dari sisi overall balance dan primary balance menggambarkan konsolidasi fiskal dari APBN Indonesia terus kuat dan kredibel,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta (KiTa) yang berlangsung secara virtual pada Senin (22/5/2023).
Dia mengatakan, seluruh sektor kuat dan stabil sehingga berkontribusi kepada tumbuhnya ekonomi Indonesia kuartal I 2023 sebesar 5,03% yang lebih tinggi di atas ekspektasi. Surplus APBN bulan April 2023 meningkat. Kinerja pendapatan masih kuat dan perlu diimbangi akselerasi kinerja belanja. Kinerja fiskal masih cukup baik, meski perlu diwaspadai potensi moderasi ke depannya sebagai dampak menurunya harga komoditas global.
“Meskipun daya tahan ekonomi cukup tinggi, kita mewaspadai kondisi ekonomi global yang mulai terlihat rembesannya pada kinerja ekspor dan impor yang harus kita lihat pada paruh kedua tahun ini dimana fondasi yang baik harus terus dijaga dan kita harus mampu memitigasi risiko global,” tutur mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini.
Pada April 2023 APBN mengalami surplus sebesar Rp 234,7 triliun atau 1,12% dari produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara mencapai Rp 1.000,5 triliun atau 40,6% dari target APBN. Angka ini menunjukan pertumbuhan 17,3% dibandingkan April 2022 yang mencapai Rp 853,2 triliun. Rinciannya adalah penerimaan pajak Rp 688,1 triliun atau 40,1% dari pagu. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 21,3% dibandingkan April 2022 yang Rp 567,3 triliun. Penerimaan bea cukai sebesar Rp 94,5 triliun atau 31,2 % dari pagu. Sedangkan realisasi penerimaan negara bukan pajak mencapai Rp 217,8 triliun atau 25% .
Realisasi belanja negara mencapai Rp 765,8 triliun 25% dari pagu atau tumbuh 2% dari posisi April 2022. Hingga April 2023 realisasi pembiayaan mencapai Rp 223,9 triliun atau 37.4% dari pagu. Angka ini menunjukan pertumbuhan 56,3% dari posisi April 2022. “Tekanan global sudah diprediksi karena pada tahun ini terjadi pelemahan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia pasti akan berimbas (ke Indonesia),” kata Sri Mulyani.
Editor: Nasori
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





