Jumat, 15 Mei 2026

Kenaikan Harga Jelang Ramadan Karena Dampak Kebijakan Pemerintah dan Siklus Tahunan

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
10 Mar 2024 | 12:32 WIB
BAGIKAN
Pengamat Pertanian Center of Reform on Economic (CORE) Eliza Mardian
Pengamat Pertanian Center of Reform on Economic (CORE) Eliza Mardian

JAKARTA, investor.id – Kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan selalu menjadi perbincangan dan dikeluhkan masyarakat. Tahun ini, beban tersebut sudah terasa dengan kenaikan harga beras beberapa bulan sebelum Ramadan.

Menurut Pengamat Pertanian Center of Reform on Economic (CORE) Eliza Mardian, kenaikan harga pangan jelang Puasa Ramadan adalah siklus tahunan. Tren yang berulang setiap tahun ini seharusnya diantisipasi jauh-jauh hari.

"Kenaikan harga menjelang Ramadan ini memang menjadi siklus tahunan yang berulang setiap tahun. Ini semestinya diantisipasi jauh-jauh hari sebelumnya," ungkap Eliza, saat dihubungi B-Universe, Minggu (10/3/2024).

ADVERTISEMENT

Sejumlah komoditas pangan yang mengalami tren kenaikan dan hingga kini masih berada di level harga yang cenderung mahal adalah beras, baik kualitas premium maupun medium. Kenaikan juga terjadi untuk telur ayam, daging ayam, daging sapi, hingga cabai rawit merah dan cabai merah keriting.

Berdasarkan pantauan dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), pada Minggu (10/3/2024) sekitar pukul 10.00 WIB, secara rata-rata nasional, harga beras premium berada di angka Rp 16.470 per kilogram dan beras medium Rp 14.360 per kilogram.

Kemudian, komoditas telur ayam ras berada di harga rata-rata Rp 31.630 per kilogram, daging sapi Rp 135.990 per kilogram, daging ayam ras Rp 38.390, cabai merah keriting Rp 65.050 per kilogram dan cabai rawit merah Rp 63.020 per kilogram.

Kenaikan harga pangan tersebut, menurut Eliza tidak terlepas dari dampak kebijakan pemerintah dan terakumulai pada kenaikan harga beras. Mulai dari kebijakan mengurangi BBM subsidi yang berdampak pada harga BBM, biaya transportasi dan upah tenaga kerja yang terkerek, hingga pengurangan pupuk bersubsidi yang berdampak pada peningkatan biaya produksi.

"Untuk menjaga agar petani untung, maka petani harus meningkatkan harga jual gabahnya. Jadi, beras naik, karena gabah di level petani naik," jelas Eliza.

Kondisi ini semakin diperparah dengan fenomena iklim El Nino. Kemudian, berbarengan juga dengan momentum pesta demokrasi dan puasa Ramadan, yang semakin meningkatkan kebutuhan pangan di level konsumen.

Sementara, Eliza menambahkan, harga daging ayam, telur ayam dan komoditas lainnya memang konsisten mengalami tren kenaikan dari tahun ke tahun.

"Secara pola tahunan memang harga akan cenderung naik di awal tahun dan nanti akan melandai atau turun pada Maret-April. Kemudian, akan naik kembali pada Juni-Juli dan melandai turun mulai bulan Agustus. ‎Setelahnya, naik lagi pada November-Desember. Ini karena pola budidaya," terangnya.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia