Jumat, 15 Mei 2026

BI Konsisten Jaga Stabilitas Di Tengah Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah

Penulis : Arnoldus Kristianus
19 Apr 2024 | 12:43 WIB
BAGIKAN
Gubenur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampikan laporan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I Tahun 2024 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, baru-baru ini.(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom)
Gubenur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampikan laporan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I Tahun 2024 di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, baru-baru ini.(ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom)

JAKARTA,investor.id - Di tengah fluktuasi mata uang, Bank Indonesia (BI) terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam hal ini BI terus berada di pasar dan melakukan sejumlah intervensi.

“Kami terus memastikan stabilitas rupiah tetap terjaga dengan intervensi valuta asing dan langkah-langkah lain yang diperlukan," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangan resmi yang diterima pada Jumat (19/4/2024).

Berdasarkan data Bloomberg nilai tukar rupiah sebesar 16.278 per dolar AS pada Jumat (19/4/2024). Nilai ini sudah jauh berada di atas asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2024 yang sebesar Rp 15.000 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan pihaknya melakukan pengelolaan aliran portfolio asing yang ramah pasar, termasuk operası moneter yang “pro-market" dan terintegrasi dengan pendalaman pasar uang, mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia. Menurut dia, Indonesia termasuk salah satu negara emerging market dengan perekonomian yang kuat dalam menghadapi dampak rambatan global akibat ketidakpastian penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate/FFR) dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Hal ini ditopang oleh kebijakan moneter dan fiskal yang prudent dan terkoordinasi erat,” terang Perry.

Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terjadi karena turbulensi perekonomian global. Sementara itu fundamental perekonomian Indonesia tetap terjaga. Dari kondisi tersebut, Destry menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah hanya akan temporer.

“Dari BI kami melihat, ini temporary shock adjustment, justru dalam kondisi ini harus menunjukkan bahwa kami ada di pasar dan meyakinkan bahwa kita bersama-sama pelaku di pasar akan terus menjaga stabilitas rupiah,” ucap Destry.

Upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dilakukan melalui intervensi triple intervention. Jika dirinci triple intervention dilakukan BI melalui Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), pasar spot, hingga ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Destry menegaskan bahwa pemerintah juga akan masuk ke pasar SBN domestik sebagai salah satu langkah menjaga nilai tukar rupiah.

“Kalau memang dibutuhkan kami support di market SBN. Kita lihat bahwa tekanan di sana bond yieldnya tinggi, jadi kita akan melihat SBN sampai seberapa jauh dan kita akan masuk, yang pasti spot dan DNDF kita akan selalu ada di market,” tegas Destry.

BI juga menggunakan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik minat investor agar menaruh dana mereka di pasar keuangan domestik. Selain itu BI menggunakan instrumen swap dalam penukaran dolar ke rupiah.

“Kami akan optimalkan semua kebijakan dan instrumen yang dimiliki, bukan hanya untuk menimbulkan keyakinan dari market tetapi juga bagaimana bisa mengattract itu,” kata Destry.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan meskipun nilai tukar rupiah mengalami pelemahan namun kondisi nilai tukar rupiah dinilai masih lebih baik dibandingkan negara lain.

“Terkait dengan indeks nilai tukar rupiah kita lihat, kalau dibandingkan dengan berbagai negara lain relatif sedikit lebih baik dari Malaysia (ringgit) juga China(yuan). Namun, yang lebih baik dari kita adalah Korea Selatan dan Thailand,” ucap Airlangga.

Airlangga mengatakan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sebab Indonesia memiliki fundamental perekonomian yang kuat. Dengan fundamental perekonomian yang baik, kondisi mata uang garuda tetap terjaga.

“Dari segi fundamental ekonomi Indonesia, Indonesia secara perekonomian kuat, pertumbuhan ekonomi dijaga di atas 5%, neraca perdagangan masih surplus kemudian cadangan devisa tercatat masih kuat,” tutur Airlangga.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 19 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 20 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia