Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Prediksi BI Masih akan Pertahankan Suku Bunga Acuan di 6%

Penulis : Arnoldus Kristianus
23 Apr 2024 | 20:34 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Foto: Antara)
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Foto: Antara)

JAKARTA,investor.id - Kalangan ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 23-24 April 2024. Hal ini berdasarkan kondisi nilai tukar rupiah , inflasi, dan faktor geopolitik eksternal yang sejauh ini tidak mendukung bank sentral untuk melonggarkan lebijakannya.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan pelemahan rupiah saat ini terjadi karena data-data indikator ekonomi Amerika Serikat yang masih solid, imbasnya ruang pemotongan suku bunga kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed bergeser dari Juni 2024 ke September 2024.

Pelemahan rupiah juga lebih disebabkan oleh faktor musiman di mana pembayaran deviden dan kupon ke non-resident serta pembayaran pokok utang luar negeri akan meningkat dan mencapai puncaknya setiap kuartal kedua tiap tahun.

ADVERTISEMENT

“Untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut, sebenarnya BI masih memiliki amunisi yang cukup banyak didukung oleh cadangan devisa yang masih terbilang relatif tinggi sehingga BI masih bisa akan masuk dan melakukan intervensi di pasar valuta asing,” ucap Josua Pardede pada Selasa (23/4/2024).

Keputusan BI untuk meningkatkan efektivitas kebijakan triple intervention seperti intervensi yang dilakukan BI pada pasar Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, dan Surat Berharga Negara (SBN) sebenarnya sudah membuahkan hasil di tengah gempuran sentimen risk-off yang belakangan ini terus terjadi.

Pelemahan Rupiah saat ini sudah cenderung semakin terbatas. Cadangan devisa yang terbilang relatif tinggi juga menjadi modal yang cukup kuat bagi BI.

Mengenai upaya menggalakkan kembali kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) memang menjadi sangat diperlukan, mengingat surplus perdagangan pada Maret 2024 yang kembali naik ke atas US$ 4 miliar atau tertinggi sejak Februari 2023 belum terasa dampaknya pada pasar valuta asing Indonesia. Artinya memang tidak semua surplus masuk ke sistem keuangan Indonesia.

“Kami melihat menggalakkan kembali kebijakan DHE menjadi salah satu opsi yang dapat digunakan sebelum menaikkan suku bunga BI-rate. Kebijakan DHE bisa dilebarkan tidak hanya untuk komoditas ekspor utama Indonesia yang kebanyakan adalah komoditas, menjadi seluruh produk,’kata Josua.

Bila BI-rate dinaikkan maka dampak positifnya adalah tekanan dari faktor eksternal tersebut dapat mereda karena terjadi pelebaran positive spread dengan imbal hasil instrumen keuangan negara lainnya, sehingga instrumen keuangan Indonesia cenderung dapat menjadi lebih menarik karena adanya kompensasi pada kenaikan risk premium.

Dampak negatifnya adalah beban imbal hasil instrumen keuangan domestik akan meningkat dan menjadi beban bagi peminat instrumen.

“Selain itu, naiknya BI-Rate dapat bertransmisi ke kenaikan suku bunga kredit sehingga meningkatkan borrowing cost yang berujung pada tertahannya potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur Josua.

Sementara itu, Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, Ryan Kiryanto mengatakan BI-Rate diperkirakan akan bertahan di 6%. The Fed juga masih menunda penurunan suku bunga acuan, dari awalnya Juni bergeser ke September 2024, bahkan mungkin di tahun 2025.

Bila kondisi inflasi di Amerika Serikat masih ganas (stubborn inflation) di atas target yang 2%, maka The Fed malah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,5-5,75%. Di samping itu, secara umum level suku bunga acuan di Eropa rata-rata masih berkisar 4,5-5,5%.

“Untuk jangka pendek ini, langkah mempertahankan BI-Rate di level 6% merupakan langkah yang baik, reasonable, presisi dan antisipatif, “kata dia .

Dia mengatakan inflasi di kelompok negara maju masih di level 4-4,5% hingga saat ini. Untuk kepentingan melanjutkan upaya stabilisasi ekonomi dan moneter di dalam negeri yaitu inflasi terkendali dan nilai tukar rupiah tidak fluktuatif secara ekstrim atau bahkan makin melemah, pilihan terbaik yang tersedia adalah mempertahankan BI-Rate. Namun, Ryan juga melihat ada kemungkinan BI menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

“Hal ini bisa terjadi jika The Fed menaikkan bunga acuan dan jika inflasi di Indonesia cenderung naik mendekati 3,5-4% secara persisten,” pungkas Ryan.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 16 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 18 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia