Jumat, 15 Mei 2026

Pemerintah Sebaiknya Kejar Pajak Orang Super Kaya Dibanding Naikkan PPN

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
5 Des 2024 | 18:02 WIB
BAGIKAN
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara

JAKARTA, investor.id – Pemerintah dinilai perlu mencari alternatif lain dalam meningkatkan pendapatan pajak, dengan cara mengejar pajak dari kalangan super kaya, alih-alih menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12%. Sebab kenaikan PPN menjadi 12% dampaknya dirasakan seluruh lingkup perekonomian hingga kalangan masyarakat yang rentan miskin.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara menyampaikan, kebijakan menaikkan tarif PPN menjadi 12% sangat kontradiktif dengan target pemerintah untuk menaikkan rasio pajak dan meningkatkan penerimaan negara. 

"Padahal banyak cara lain, salah satunya adalah memperluas objek pajak. Bisa dari pajak kekayaan, kita belum punya pajak atas aset oang-orang super kaya," ungkap Bhima, dalam keterangan video resmi, yang diterima B-Universe, Kamis (5/12/2024).

ADVERTISEMENT

Menurut Bhima, apabila 2% saja dari total aset orang-orang super kaya bisa dikenakan pajak, maka bisa meningkatkan penerimaan negara hingga Rp 81,6 triliun per tahun.

Selain itu, Bhima berujar, pemerintah juga dinilai perlu mengejar sumber-sumber pajak baru. Misalnya, pajak karbon yang belum kunjung diimplementasikan. 

Belum lagi, insentif-insentif pajak yang tidak tepat sasaran yang kalau dievaluasi ulang bisa menghemat potensi pajak yang hilang.

"Banyak pajak-pajak baru, salah satunya adalah pajak produksi, batubara, pajak yang berkaitan dengan ekologis, itu bisa diterapkan juga sebagai sumber penerimaan sekaligus juga untuk menurunkan eksternalitas negatif dari sisi lingkungan hidup," tuturnya.

Menurut Bhima, pemerintah seharusnya lebih kreatif mencari sumber-sumber penerimaan negara lain, alih-alih menempuh jalan pintas dengan menaikkan tarif pajak yang membebaskan masyarakat kelas menengah, rentan hingga miskin. 

"Jadi kenaikan tarif PPN ini, ini juga salah satu sinyal bahwa pemerintah kurang kreatif dan kurang peka, kurang memiliki sense of crisis, sense of urgency ketika kondisi perekonomian sedang terjadi perlambatan," tandasnya.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 47 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 49 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia