Jumat, 15 Mei 2026

Banggar DPR: Efisiensi Bisa Hemat 10, Ternyata Rugi 100

Penulis : Arnoldus Kristianus
12 Feb 2025 | 18:51 WIB
BAGIKAN
Suasana rapat kerja antara Badan Anggaran (Banggar) DPR. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Suasana rapat kerja antara Badan Anggaran (Banggar) DPR. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

JAKARTA, investor.id – Kebijakan efisiensi anggaran belanja yang dilakukan pemerintah diharapkan tidak memberikan dampak kontraproduktif ke perekonomian nasional. Meskipun tujuan kebijakan ini baik, tetapi bila tidak dijalankan dengan optimal maka akan memberikan dampak negatif ke perekonomian.

“Pemerintah sudah mengambil suatu langkah untuk menyelamatkan perekonomian kita dan melanjutkan beberapa program dengan program efisiensi. Namun, kadang-kadang efisiensi ini bisa berefek yang lebih dahsyat dari yang kita duga,” ucap Anggota Badan Anggaran DPR Marwan Cik Asan dalam rapat kerja di Gedung DPR pada Rabu (12/2/2025).

Efisiensi anggaran dilakukan berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 Tentang Efisiensi Belanja dan Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2025. Jumlah anggaran yang diefisienkan adalah Rp 306,69 triliun, yang terbagi dalam efisiensi anggaran belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp 256,1 triliun dan efisiensi transfer ke daerah sebesar Rp 50,5 triliun.

ADVERTISEMENT

Kementerian Keuangan sudah mengeluarkan surat S-37/MK.02/2025 yang memerintahkan K/L untuk melakukan efisiensi anggaran terhadap 16 pos belanja. Surat tersebut merupakan tindak lanjut Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2025. Pemerintah mengimbau K/L untuk mengefisiensikan anggaran hingga Rp 256,1 triliun.

Menurut Marwan, ikhtiar efisiensi tidak selalu berdampak positif. Oleh karena itu, harus ada upaya kehati-hatian agar penerapan efisiensi anggaran tidak menjadi bumerang bagi pemerintah, terutama terhadap alokasi anggaran untuk kebijakan pemerintah yang seharusnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kadang-kadang kita ingin hemat 10 ternyata kita rugi 100. Jadi tidak selamanya efisiensi itu baik, ya. Kadang-kadang potensi dan kesempatan akhirnya hilang karena kita berpikir bahwa kita harus efisien, kita harus mendapatkan 10 tapi ternyata kita kehilangan 200. Tentu ini harus menjadi perhatian kita bersama,” kata Marwan.

Di sisi lain, Pengamat Kebijakan Publik dari The PRAKARSA Ah Maftuchan menilai kebijakan efisiensi anggaran yang dijalankan pemerintah akan berdampak pada pengurangan alokasi anggaran untuk rakyat, baik yang melalui program kegiatan maupun yang melalui subsidi atau bantuan.

Waspadai Jadi Guncangan

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 26 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia