Jumat, 15 Mei 2026

Efisiensi Anggaran untuk ‘Spending Better

Penulis : Prisma Ardianto
18 Feb 2025 | 18:20 WIB
BAGIKAN
Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad saat wawancara dalam Investor Daily Talk di IDTV, pada Selasa (18/2/2025). (B-Universe Photo)
Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad saat wawancara dalam Investor Daily Talk di IDTV, pada Selasa (18/2/2025). (B-Universe Photo)

JAKARTA, investor.id – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyebut maksud utama Presiden Prabowo Subianto melaksanakan efisiensi anggaran pada tahun 2025 adalah untuk memastikan tercapai ‘spending better’. Istilah ini juga dikenal sebagai belanja negara yang berkualitas.

Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad menyampaikan, postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025 sudah dituangkan dalam UU APBN 2025 yang ditetapkan pada bulan September 2024. Semangat dan substansi dari UU tersebut tidak berubah meskipun ada kebijakan efisiensi anggaran.

Dalam UU APBN 2025 itu, telah ditetapkan target pertumbuhan ekonomi, nilai tukar nelayan, nilai tukar petani, nilai tukar rupiah, hingga target lifting minyak. Lalu telah disetujui bersama mengenai alokasi anggaran setiap kementerian/lembaga (K/L). Di sisi lain, alokasi 20% ke sektor pendidikan masih dipertahankan sesuai amanat UUD 1945.

ADVERTISEMENT

“Itu tetap menjadi pedoman dan panduan di dalam efisiensi APBN kita ini,” ungkap Samad dalam Investor Daily Talk di IDTV, pada Selasa (18/2/2025).

Oleh karena itu, efisiensi anggaran saat ini tidak memberi berdampak terutama pada kepentingan pendidikan dan layanan kesehatan. Operasional K/L untuk mendukung program-program di sektor pendidikan dan kesehatan juga demikian, dipastikan tidak terganggu kebijakan efisiensi anggaran.

Sebagai gambaran, program sosial termasuk di dalamnya program Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sejahtera tidak mengalami perubahan, masih sesuai alokasi yang sudah ditetapkan dalam UU APBN 2025.

“Yang mengalami perubahan atau penyesuaian adalah sejumlah kegiatan-kegiatan yang ada di dalam K/L, misalnya kunjungan luar negeri yang nilainya cukup besar atau lebih dari Rp 40 triliun. Secara gabungan dievaluasi, dilihat, mana skala prioritasnya, dan mana yang masih bisa memang diperlukan untuk kepentingan pembangunan nasional kita itu tetap bisa dilaksanakan. Tetapi yang dianggap saat ini belum menjadi kebutuhan prioritas, maka itu kemudian dilakukan penyesuaian,” beber Samad.

Resep ‘Spending Better’ Prabowo

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia