Kamis, 14 Mei 2026

BI: Berkurangnya Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed Dorong Aliran Modal Asing ke RI

Penulis : Arnoldus Kristianus
24 Feb 2025 | 19:40 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Foto: Antara)
Ilustrasi Bank Indonesia (BI). (Foto: Antara)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) menilai berkurangnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) membuat investor untuk menyimpan uang mereka di negara berkembang,

Berdasarkan data BI pada periode 17-20 Februari 2025, modal asing yang masuk melalui SBN sebesar Rp 6,96 triliun. Modal asing juga masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 1,08 triliun. Dua instrumen ini telah menambahkan aliran modal asing sebesar Rp 8,04 triliun,

“Saya melihat asing memanfaatkan momentum ekspektasi penurunan suku bunga sehingga preferensinya di aset bertenor jangka panjang Hal ini juga menggambarkan bahwa Indonesia masih dianggap menarik atau aspek risikonya masih manageable,” tutur Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Edi Susianto saat dihubungi pada Senin (24/2/2025).

ADVERTISEMENT

Dengan meningkatnya aliran modal asing pada pasar keuangan domestik, jumlah modal asing yang tinggi di perbankan domestik akan meningkatkan resiliensi perekonomian dalam negeri saat terjadi guncangan di perekonomian global.

“Tentu aliran masuk asing tersebut berdampak pada supply valuta asing di market yang meningkat dan tentunya positif bagi pergerakan nilai tukar,” tutur Edi.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, peningkatan pembelian SBN meningkat karena dipengaruhi oleh sentimen risk-on di pasar global. Hal ini sejalan dengan pengumuman dari Trump terkait kemungkinan terjadinya perjanjian dagang antara AS dan China.

“Dukungan BI terhadap kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) mendorong ekspektasi peningkatan stabilitas nilai tukar rupiah,” tutur Josua.

Menurut dia, meskipun pembelian SBN cukup deras, tetapi dampaknya cenderung lebih terbatas terhadap rupiah, terefleksi dari pergerakan rupiah yang masih berada pada kisaran Rp 16.200-16.330 per dolar AS. Dalam mendorong modal asing masuk, memang saat ini BI dan pemerintah perlu melakukan kebijakan-kebijakan yang cenderung defensif.

“Khususnya akibat dari faktor eksternal yang masih mendominasi sentimen pasar keuangan domestik,” jelas Josua.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia