Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Sebut Deflasi Beruntun Cerminan Daya Beli Masyarakat Melemah

Penulis : Arnoldus Kristianus
3 Mar 2025 | 17:37 WIB
BAGIKAN
Kawasan bisnis di Jakarta pada jam sibuk sore hari pada 5 Juli 2024. (Foto: AFP/Bay Ismoyo)
Kawasan bisnis di Jakarta pada jam sibuk sore hari pada 5 Juli 2024. (Foto: AFP/Bay Ismoyo)

JAKARTA, investor.id – Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai terjadinya deflasi secara beruntun selama Januari-Februari 2025 menunjukkan daya beli masyarakat melemah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari terjadi deflasi 0,76% secara bulanan dan pada Februari 2025 terjadi deflasi 0,48%. Selain deflasi daya beli masyarakat melemah, pemutusan hubungan kerja (PHK) juga terjadi di Indonesia.

“Awal tahun ini ditandai dengan deflasi dua bulan berturut-turut yang mencerminkan lemahnya permintaan domestik. Selain itu, angka PHK sepanjang 2024 mencapai 77.965 kasus, ditambah 4.050 kasus baru di Januari 2025, yang semakin menekan daya beli masyarakat,” papar Achmad pada Senin (3/3/2025).

ADVERTISEMENT

Dia memperkirakan kinerja perekonomian selama Ramadan 2025 akan tumbuh, namun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) makanan dan minuman masih bertahan kuat, sementara sektor pakaian harus bersaing dengan arus impor.

“Konsumsi meningkat secara musiman, tetapi daya beli yang lebih terbatas membuat lonjakan ini tidak sedramatis 2023 atau 2024,” imbuhnya.

Gelontoran Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi faktor utama yang mendorong belanja masyarakat menjelang Lebaran. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 50 triliun untuk THR untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) pada 2025, yang naik tipis dibandingkan Rp 48,7 triliun tahun sebelumnya. Strategi pencairan lebih awal juga dilakukan agar uang beredar lebih merata dan tidak hanya menumpuk di akhir Ramadan.

“Namun, ada indikasi bahwa masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan THR mereka tahun ini,” ujar Achmad.

Pada 2024, survei menunjukkan sebanyak 67% masyarakat mengalokasikan setidaknya 25% dari THR untuk belanja Ramadan dan Lebaran. Namun pada 2025, banyak rumah tangga yang lebih berhati-hati akibat ketidakpastian ekonomi sehingga memilih menyimpan atau membayar utang terlebih dahulu daripada langsung menghabiskan uang untuk konsumsi.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia